by

Masyarakat Pasar Malam

Oleh : Alim

Selain “masyarakat bungkus”, kita ini juga “masyarakat pasar malam”. Malam yang lengang dibikinin pasar biar ramai, kayak siang hari itu rasanya masih kurang untuk ramai-ramai.Ada model orang² yang kalau damai itu gerah, makanya bikin kasruh. Nggak di golongan sana, golongan sini, golongan situ, golongan mana aja.. selalu ada yang begitu.

Ada yang atas nama masalalu, atas nama perlawanan, atas nama melindungi golongannya, atas nama membalas.. macem². Intinya, kalau bisa ramai kenapa dibikin damai.

Sementara yang suka damai dibilang cemen, lemah, apapun lah bisa dibuat. Coba lihat bagaimana PP Muhammadiyah dihujat, dibilang cemen, nggak punya sikap, lemah, tidak mau nahi munkar.. macem²lah.. hanya karena menjaga netralitas dan mengurangi risiko keterbelahan masyarakat dalam pilpres kemarin.

Ini sebenarnya soal melihat gelas itu setengah kosong atau setengah isi. Yang orientasinya pada isi, akan beda dengan yang orientasinya pada kekosongan.Kasusnya sama, orientasinya beda. Kalau ada konflik, ada yang suka meramaikan, ada yang mencari celah mendamaikan.

Pernah saat Buya mengunjungi gereja tempat pembacokan pastur beberapa waktu lalu. Yang orientasinya ramai langsung menyambut, “Dasar, kalau agama lain kena kasus dibela, kalau agama sendiri malah diserang”, demikian ada orang memaki Buya.Orang² itu nggak peduli Buya di lain kesempatan langsung ke lokasi saat ada mushala dibakar. Orang² model ini peduli aja nggak, apalagi memberitakan.Memang sih, nggak rame nggak asik…

Sumber : Status Facebook Alim

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed