Masih Ragu Nurdin Abdullah Korupsi?

Sebelum dikerjakan? Bagaimana dengan sesudahnya? Lalu sebuah pernyataan dari sang profesor membentuk semacam keraguan di benak saya. Tapi tak perlu saya ungkap di sini.
Yang jelas, sepulang dari santap siang bersama Nurdin itu, saya merasakan kekaguman yang cuil di benak. Sedikit tapi mengganggu. Itu pula yang membuat saya tidak pernah menyatakan dukungan terbuka kepada sang profesor saat Pemilihan Gubernur Sulsel digelar tiga tahun lalu, beberapa bulan seusai obrolan di meja makan itu. Meski, suara saya toh tidak punya arti apa-apa hehe.
Begitulah. Tengah malam tadi, Nurdin Abdullah ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi. Ia yang mengenakan rompi oranye dan tangan terborgol dijejer bertiga dengan membelakangi wartawan. Di meja panjang di belakangnya, sekoper uang yang diambil dari Operasi Tangkap Tangan di Kota Makassar turut dipamerkan oleh KPK.
Dengan gamblang, Ketua KPK Firli Bahuri menguraikan keterlibatannya yang sulit untuk dibantah. “Pada akhir tahun 2020, NA menerima uang sebesar Rp200 juta. Pertengahan Februari 2021, NA melalui SB menerima uang Rp1 miliar. Awal Februari 2021, NA melalui SB menerima uang Rp2,2 miliar,” kata Firli.
Duit-duit itu mengalir sebagai fee proyek infrastruktur kawasan wisata Pantai Bira di Kabupaten Bulukumba. Untuk proyek ini, kontraktor Agung Sucipto mendapat ruang yang begitu lapang berkat dukungan gubernur. Hasil penyelidikan KPK menyebutkan, pada awal Februari lalu, Nurdin sendiri yang bertemu dengan Agung Sucipto bersama Edy Rahmat, Sekdis Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Provinsi Sulsel dan berbicara tentang duit-duit itu. “NA menyampaikan pada ER bahwa kelanjutan proyek Wisata Bira akan kembali dikerjakan oleh AS. NA memerintahkan ER untuk segera mempercepat pembuatan dokumen DED (Detail Engineering Design) yang akan dilelang pada APBD TA 2022,” kata Firli.
Lalu, pada akhir Februari 2021, kata Firli, Nurdin menyampaikan kepada Edy Rahmat agar “operasional kegiatan” Nurdin dibantu oleh Agung Sucipto.
Begitu terang benderang.
Malam ini, Nurdin Abdullah mulai menghuni ruang tahanan KPK di kompleks polisi militer di kawasan Guntur, Jakarta Pusat. Dan itulah akhir karir sang profesor. Nama baik yang terukir bertahun-tahun lamanya, hilang tersapu angin hanya dalam sekejap. Begitulah kehidupan.
Sumber : Status Facebook Tomi Lebang

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *