by

Manusia (Bermental) “Sambo”

Oleh : Mamang Haerudin

Sudah lama saya ingin menulis catatan harian tentang kasus yang terus berlarut-larut ini. Menjalar ke mana-mana. Kasus pembunuhan berencana yang dilakukan oleh salah seorang petinggi Polri. Ferdy Sambo nama polisinya. Kaget sih tidak, hanya sungguh menyebalkan karena menyita waktu dan perhatian publik. Kasus Sambo ini menunjukkan realitas sakit para pejabat yang sudah barang tentu akan mempunyai efek domino sampai ke lapisan bawah. Tidak hanya terjadi di internal Polri, melainkan di seluruh instansi Pemerintah lainnya, di berbagai lembaga lainnya.

Saya meminjam nama Sambo untuk memudahkan untuk menyebut manusia-manusia yang perilakunya jahat dan koruptif. Kalau nafsu sudah merasuk, apa pun bisa dilakukan, tak pandang apakah kelak korbannya itu saudara, teman sejawat atau lainnya. Ini zaman di mana manusia begitu mudah terkontaminasi oleh nafsu-nafsu angkara, keserakahan, gila jabatan dan lain sebagainnya. Siapa pun berpotensi besar terjangkit bahaya zaman tersebut. Ada satu hal yang ingin saya kemukakan, mengapa kemudian umumnya perilaku “Sambo” ini sulit diungkap.

Anggah-ungguh. Saya menyebutnya anggah-ungguh. Anggah-ungguh ini yang kemudian membuat antar sesama kita, antar orang menjadi tidak enakan, tidak tega, saling menghormati tetapi terkesan sangat berlebihan. Efek dominonya adalah praktik-praktik korupsi juga dilakukan secara berjamaah. Kebiasaan buruk bagi-bagi jatah juga betul-betul sudah menjalar ke mana-mana, bahkan akhirnya dinikmati sebagai sistem sosial yang dilekatkan dengan anggapan budaya ketimuran. Nah anggah-ungguh tidak jelas ini merupakan bagian paling membahayakan dengan apa yang disebut dengan budaya ketimuran.

Mau tidak mau akibat bangunan sistem sosial yang rusak ini, entah sudah berapa banyak orang baik yang akhirnya ikut-ikutan terjerumus. Mentalnya sama, para pejabat dan publik sama-sama saling mendulang keuntungan pribadi. Oportunistik. Lihat saja sistem sosial sekitar kita dengan sangat jelas menggambarkan sebuah penghormatan yang sangat berlebihan apabila di suatu tempat kedatangan pejabat. Lihat juga berapa banyak orang yang berebut merapat ke Bupati, Gubernur, hingga Presiden untuk meminta proyek dan segala hal yang berbau keuntungan atau cuan.

Wallaahu a’lam

Sumber : Status Facebook Mamang M Haerudin (Aa)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed