by

Makan Cepat – Mikir Kilat – Kerja Rikat

Oleh : Harun Iskandar

Orang Indonesia itu kadang agak ‘kemlinthi’. Sedikit sombong, ndak ngukur diri. Ketika Jokowi beri aturan makan ‘harus’ cukup cuma 20 menit, malah diketawai. Mana cukup, Pak . . . !Protes . . .

Jaman saya kerja dan masih bujangan dulu, sarapan mesti di kaki-lima. Dekat pabrik. Di luar pagarnya. Menu rutin Soto Surabaya. Di warung, tepatnya gerobak, pinggir jalan, sekaligus pinggir kali. Duduk di ‘dingklik’, bangku, kayu panjang.Makan pagi harus cepat. Karena sekitar 10 menit sebelum pukul 7.00, harus ikut senam pagi dalam pabrik. Lalu meeting lapangan 5 menit, baru kerja.Jadi sarapan mesti kilat. Lagipula di belakang sudah banyak teman2 yang antri. Gantian tempat duduk.Berapa waktu yang saya butuhkan untuk habiskan satu piring nasi berkuah soto panas itu ? Paling lama 10 sampai 12 menit. Sudah termasuk minum teh tawar anget . . .

Kalau sempat jalan2 ke Jepang, coba naik kereta pagi2, bareng orang Jepang berangkat kerja. Lihat cara mereka berjalan-kaki. Super cepat.Coba juga sarapan ‘Ramen’ di kios yang ada di ‘koridor’ stasiun. Lihat cara makan mereka. Baik yang pakaian ‘werpak’ atau berdasi, cara makannya sama. Srap srop srap srop !Dalam sekejap, mangkok isi ramen panas pun tandas. Sementara kami sekeluarga, waktu itu, makan dengan gaya ‘sok imut’. Di tiup2 dulu, biar agak sedikit dingin, baru di sedhot pelan2. Lama. Belum lagi disela dengan glègèk-ên. Bersendawa. Hêêgh . . . Hêêgh . . . Masih jeda lagi untuk keringkan keringat di dahi yang mau netes.Manja . . .

Pembaca, bole saja protes ke Jokowi, bahwa waktu makan yang cuma 20 menit itu ndak cukup. Asal punya alasan dan data yang tepat. Misal . . .Biasa makan dengan menu steik ‘Wagyu’, grade A5. Yang kalau dimakan mata perlu kethap-kethip dulu. Nikmati rasa lumer meleleh di mulut, karena ‘marbling’nya tinggi . . .Minumnya ‘wine’ usia minimal 50 tahun. Yang kalau mau minum, gelasnya perlu di puter2 dulu. Baru diminum . . .Makanan penutup mungkin ‘Caviar Beluga’ dari Rusia, di atas ice cream lembut, atau di atas cake atau apa, yang namanya saja kita ndak tahu . . .Lalu tubuh nyandar, nyedot cerutu Kuba . . .Dengan ‘menu’ semacam itu, kita orang baru boleh protes. Sah !

Lha kita orang ? Jangankan ‘wagyu’ Ustrali atau Jepang, makan daging biasa saja, kambing atau sapi, bikin sate, paling banter setahun sekali. Itu pun nunggu Idul Adha. Jatah fakir atau panitia.Yang umum, makan pagi, siang, dan malam, menu-nya sama, atau ndak jauh beda . . .Paling makan Lontong Sayur, Mie Ayam, Soto Ayam, Bubur Ayam, Bubur Kacang Ijo, Gado2, Ketoprak, Bakso, Sego Koceng, atau bahkan Seblak. Minumnya teh tawar atau manis, dibawa jalan, wadah kantong plastik dikarèti, plus sedotan . . .Lha kok protes, waktu makan 20 menit ndak cukup . . .Kan kêmlinthi . . . ?

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed