Lokdan Lokdon

Itu baru mikiri pabrik kecil saya. Kalau tambah mikir pabrik besar, kantor, pasar tradisional, dan lain-lain ?

Itu bisa diatur ! Betul ! Sekali lagi, yang jadi masalah mampu ndak para Kepala Daerah ?

Makanya kepala daerah harus ngitung2 dulu. Ndak bisa asal omong, pokoknya butuh biaya sekian ! Yang punya duit itu rakyat . . .

Belajar ngitung dulu. Belajar ngitung yang gampang2 dulu. Misal saja, ngitung jumlah penumpang kereta dan bis. Lalu ngitung jumlah kereta dan bis-nya. Sudah bisa klop belum ? Bisa dan tau ndak cara ngitungnya ?

Kalau belum bisa ngitung yang gampang2, ya jangan omong macem2. Sekali lagi, kalau cuma bisa teriak ‘lokdan-lokdon’ thok, ndak butuh ‘cangkêm’ Kepala Daerah . . .

Berita lockdown atau karantina wilayah yang paling update adalah kasus sebuah mesjid di Jakarta Barat.

Pemda belum sempat ngitung dan posting biaya, sudah harus keluarkan biaya. Buat sekitar 300 orang. Yang buuuandhêl !

Makan sekali 20 ribu rupiah per orang. Sehari makan 3 kali, berarti satu orang butuh 60 robu rupiah. Selama 14 hari karantina dia orang butuh asupan dana 840 ribu rupiah.

Untuk makan 300 orang perlu dana 252 juta Rupiah. Rapit tes kit mungkin seharga 1,5 juta Rupiah dikalikan 300, sekitar 450 juta Rupiah.

Total 652 juta Rupiah . . .

Layak ndak layak. Suka ndak suka. Worth it atau ndak, 652 juta Rupiah itu terpaksa harus dikeluarkan oleh Pemerintah . . .

Kita sebagai Pembayar Pajak rela ndak ? Ya terpaksa rela. Daripada mereka ndak sembuh terus nulari kita2 orang.

Jalan pelan2 kayak zombie . . .
Hoooaaax . . .
Hoooaaax . . .
Hoooaaax . . .

Sumber : Status facebook Harun Iskandar

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *