by

Lion Berlindung Di Balik Takdir?

 

Muncul pada akhir tahun 1990an, entah siapa saja pemegang sahamnya, sampai begitu mudah mereka menjajah udara Indonesia. Kita sebenarnya bangga pada awalnya, tapi mulai terusik manakala mereka mulai jumawa, dari mulai pramugari yg ketus dan kelimis bak artis, sampai maling bagasi yg terus terjadi, delay nyaris tak terhindari. Pilotnya nyabu, cuma di sanksi pribadi, maskapainya tetap terbang tinggi dan terus unjuk gigi, konsumen seolah tidak lagi bisa membuat pilihan, kebayang bila semua route penerbangan akan dikuasai kelompok usaha yg bisa saja mereka cuma berpikir untung saja, mereka lupa bahwa mereka mengambil uang penumpang dgn taruhan nyawa.

Saya tidak dalam kapasitas bisa tau apa yg terjadi, tapi setiap kejadian yg dialami Lion Air seolah kita tak punya hak untuk selamat. Seolah mereka akan menjawab, Ente bayar kami terbangkan, ente komplain kami turunkan, masalahnya 189 nyawa dipaksa jadi kepingan dilaut Tanjung Karawang.

Himbauan kita cuma ketegasan pemerintah, bahwa Lion bukan legenda naga yg menjadi adi kuasa di langit Indonesia, mereka harus tunduk pada ketentuan yg ada, bukan jumawa seolah mereka berkuasa termasuk nyawa para pemakai jasanya.

Takdir itu ada, tapi bukan orang pandir yg terus memakainya dan kita tidak bisa berbuat apa-apa.

SATU KALIMAT YG SELALU KITA TANYA, KUALITAS KITA SEPERTI APA. KHUSUSNYA KONSUMEN HARUS BISA MEMILIH KALAU TERBANG MAU NAIK APA. BUKAN ASAL MURAH TAPI NYAWA TARUHANNYA. HUPS TAKDIR MASIH ADA, MAAFKAN SAJA, SATU BULAN KEDEPAN BERITANYA SUDAH SIRNA.

 

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed