by

Lima Pertanyaan Dibalik Pembelaan Seorang Figur

Oleh : Wahyudi Akmaliah

Belajar dari Pilpres 2014, Pilkada Jakarta 2017, dan Pilpres 2019, penting bagi kita agar tidak termakan algoritma konflik, pertarungan buzzers, sekaligus politik emosi yang membawa kita masuk dalam arus polarisasi. Tiga politik elektoral tersebut mengajarkan kepada kita, betapa dampak polarisasi itu benar-benar merusak solidaritas komunal dan ikatan persaudaraan dengan orang-orang terdekat kita. Padahal, sebagaimana kita tahu, tidak hanya memunculkan kekecawaan, melainkan juga kekagetan. ..

Bentuk kekagetan tersebut adalah betapa orang-orang yang dulu kita bela tidak mau mendengarkan aspirasi politik kita sebagai bagian dari warganegara. Yang menjengkelkan, lawan-lawan politiknya justru menjadi bagian dari pemerintahan yang mereka pimpin. Orang-orang terdekat yang membela, kini duduk menikmati kursi empuk dalam internal institusi negara. Sementara, dendam kita terhadap saudara akibat polarisasi politik belum juga pulih. ..

Bertolak dari sini, kita membutuhkan semacam lensa kritis sebelum melakukan dukungan ataupun melihat mengapa ada orang yang membela mati-matian kepada figur tertentu. Di sini, saya mengajukan lima pertanyaan sebagai pegangan sebelum kita memuji sekaligus membenci baik figur yang dibela ataupun sosok yang membelanya. Tentu saja, lima pertanyaan ini bisa teman-teman tambahkan.

Setidaknya, bagi saya, lima pertanyaan ini cukup untuk merefleksikan diri agar kita tidak kebelasuk seperti momen politik elektoral sebelumnya. ..Pertama, siapa figur yang dibela tersebut?.

Kedua praktik etika moral apa yang sudah diterapkan sehingga ia pantas untuk dibela?.

Ketiga, ada hubungan apa sebenarnya antara yang dibela dengan yang membela yang membuat emosi kita menjadi terlibat?.

Keempat, bagaimana sebenarnya jejak politik, akumulasi kapital, dan pertautan dari orang yang membela tersebut?.

Kelima, dampak hubungan apa yang memungkinkan dari upaya pembelaan tersebut didapatkan, baik itu secara ekonomi maupun non-materi?…

Harus diakui, dari lima pertanyaan tersebut tidak semuanya bisa dijawab dengan pencarian Google sekaligus tidak bisa hanya menyandarkan kepada informasi dari influencer. Selain itu, adanya periode waktu untuk membuktikan juga kerapkali sulit untuk menjawab pertanyaan nomor lima. Setidaknya, lima pertanyaan itu bisa menjadi pegangan agar kita enggak goblok-goblok amat dalam melihat pembelaan seseorang terhadap figur tertentu.

Sumber : Status Facebook Wahyudi Akmaliah

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed