Lestarikanlah Local Wisdom!

Oleh S.H. Dewantoro

REDAKSIINDONESIA – Sebagai sebuah negara bangsa, Indonesia terus mengalami transformasi budaya, dari budaya etnik menjadi budaya nasional.  Proses ini terus berjalan hingga pada detik ini.  Dan agar ia terus berjalan secara baik, merujuk pada Umar Kayam, kita perlu menciptakan kondisi yang sehat serta menguntungkan bagi terciptanya dialog budaya antar nilai-nilai etnik dengan nilai-nilai Negara-kebangsaan.  

Yang dimaksud dengan nilai-nilai etnik di sini adalah nilai-nilai tradisional yang diwarisi oleh lingkungan etnik dari pemantapan struktur masyarakat-masyarakat yang mendahului mereka. Sedangkan nilai-nilai negara-kebangsaan adalah nilai-nilai kontemporer yang diletakkan oleh persyaratan minimal untuk membangun sosok struktur Negara-kebangsaan tersebut. [1]  Pemaknaan praktis dari apa yang digagaskan oleh Umar Kayam, adalah bahwa kita perlu memberikan ruang yang setara dan sebebas-bebasnya bagi setiap suku bangsa untuk mengaktualisasikan, mengekspresikan dan mendialogkan kebudayaan lokal yang mereka miliki, sembari pada saat yang sama, kita berbegang teguh pada suatu common platform, sebuah nilai bersama sebagai bangsa yang biasanya berupa nilai-nilai luhur yang bersifat lebih universal dan bisa diterima oleh semua suku bangsa. 

Berangkat dari pertimbangan-pertimbangan di atas, maka strategi kebudayaan yang perlu kita kembangkan adalah, pertama, menginventarisasi nilai-nilai luhur dari kebudayaan nasional maupun kebudayaan daerah yang bisa kita terima, jalankan, lestarikan, tanpa perlu pemaknaan ulang; kedua, memaknai ulang segenap nilai-nilai luhur dari kebudayaan nasional maupun kebudayaan daerah yang masih dipegang teguh oleh berbagai suku bangsa di Indonesia, agar pola kehidupan kita menjadi lebih selaras dengan tantangan pada masa kini; dan ketiga, merumuskan nilai-nilai kebudayaan bangsa yang bisa diterima oleh berbagai suku bangsa di Indonesia sebagai common platform, yang menjadi rujukan bagi upaya pembentukan jatidiri bangsa.

Nilai-nilai Luhur yang Patut Dilestarikan

Nilai-nilai luhur yang diwariskan dari masa lalu, biasanya disebut juga dengan kearifan lokal, yang artinya adalah gagasan-gagasan setempat (local) yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya. [2]

Merujuk pada I Ketut Gobyah, kearifan lokal (local genius) adalah kebenaran yang telah mentradisi atau ajeg dalam suatu daerah. Kearifan lokal merupakan perpaduan antara nilai-nilai suci firman Tuhan dan berbagai nilai yang ada. Kearifan lokal terbentuk sebagai keunggulan budaya masyarakat setempat maupun kondisi geografis dalam arti luas. Kearifan lokal merupakan produk budaya masa lalu yang patut secara terus-menerus dijadikan pegangan hidup. Meskipun bernilai lokal tetapi nilai yang terkandung di dalamnya dianggap sangat universal. [3]  Sementara S. Swarsi Geriya mengatakan bahwa secara konseptual, kearifan lokal dan keunggulan lokal merupakan kebijaksanaan manusia yang bersandar pada filosofi nilai-nilai, etika, cara-cara dan perilaku yang melembaga secara tradisional. Kearifan lokal adalah nilai yang dianggap baik dan benar sehingga dapat bertahan dalam waktu yang lama dan bahkan melembaga. [4]

 

Pada kenyataannya, bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai suku bangsa, memiliki banyak sekali kearifan lokal yang jika dihayati dan dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari, niscaya membawa bangsa ini pada kehidupan yang baik, berwujud nilai, norma, etika, kepercayaan, adat-istiadat, hukum adat, dan aturan-aturan khusus.

 

Untuk masyarakat Bali misalnya, kearifan lokal tersebut memiliki beberapa fungsi dan makna antara lain:

1. Berfungsi untuk konservasi dan pelestarian sumber daya alam.

2. Berfungsi untuk pengembangan sumber daya manusia, misalnya berkaitan

dengan upacara daur hidup, konsep kanda pat rate.

3. Berfungsi untuk pengembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan, misalnya

pada upacara saraswati, kepercayaan dan pemujaan pada pura Panji.

4. Berfungsi sebagai petuah, kepercayaan, sastra dan pantangan.

5. Bermakna sosial misalnya upacara integrasi komunal/kerabat.

6. Bermakna sosial, misalnya pada upacara daur pertanian.

7. Bermakna etika dan moral, yang terwujud dalam upacara Ngaben dan

penyucian roh leluhur.

8. Bermakna politik, misalnya upacara ngangkuk merana dan kekuasaan patron

client. [5]

 

Dalam konteks ikhtiar mewujudkan kejayaan bangsa, penulis berpikir bahwa yang sepatutnya kita kemukakan adalah kearifan-kearifan lokal yang berprospek secara langsung mewarnai dan mengarahkan kehidupan masyarakat kepada perbaikan kesejahteraan, baik pada aspek sosial, ekonomi maupun lingkungan.  Pada aspek sosial misalnya, kita perlu mengaktualisasikan dan menghidupkan kembali kearifan lokal yang mendorong peningkatan kualitas kemanusiaan kita dan mendorong terbangunnya relasi sosial yang harmonis.

Contoh kearifan lokal yang kita perlu lestarikan pada aspek ini misalnya, adalah budaya tepa selira atau toleransi yang secara indah terkandung dalam ungkapan bhinneka tunggal ika. [6]  Budaya ini sebetulnya menunjukkan kuatnya kesadaran multikultural pada leluhur kita, yang sepatutnyalah kita teruskan.  Mengapa demikian?  Karena salah satu tantangan kita saat ini, adalah bahwa kita yang memang terdiri dari multi budaya dan etnis, cenderung terfragmentasi, terpisah-pisah, bahkan berkompetisi secara tidak produktif.  Kita belum merasa menjadi satu bangsa, yang memiliki rumah besar bernama Indonesia, dan harus kita makmurkan bersama, dan masing-masing penghuninya harus kita hormati dengan tulus.

Ke depan, kejayaan bangsa ini sangat tergantung dari sejauh mana kita sanggup mengelola realitas multikultural bangsa ini secara arif. 

 


[1] Umar Kayam, dalam Pidato Kebudayaan di Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki Jakarta pada tanggal 18 Agustus 1989, dengan makalah berjudul “ Pembebasab Budaya-Budaya Kita”.
 

 

[2] Seperti dijelaskan Sartini dalam tulisannya, “Menggali Kearifan Lokal Sebuah Kajian Falsafi”.   Dalam pengertian kamus, kearifan lokal (local wisdom) terdiri dari duakata: kearifan (wisdom) dan lokal (local). Dalam Kamus Inggris Indonesia John M. Echols dan Hassan Syadily, local berarti setempat, sedangkan wisdom (kearifan) sama dengan kebijaksanaan.

[3] I Ketut Gobyah, dalam “Berpijak pada Kearifan Lokal” dalam http://www. balipos.co.id, didownload 17/9/2003

[4] S. Swarsi Geriya dalam tulisannya “Menggali Kearifan Lokal untuk Ajeg Bali” di http://www.balipos.co.id

 

 

[5] Balipos terbitan 4 September 2003 dalam tulisan berjudul “Pola Perilaku Orang Bali Merujuk Unsur Tradisi”

[6] Dalam Wikipedia dipaparkan: “Bhinneka Tunggal Ika adalah motto atau semboyan Indonesia. Frasa ini berasal dari bahasa Jawa Kuna dan seringkali diterjemahkan dengan kalimat “Berbeda-beda tetapi tetap satu”. Kalimat ini merupakan kutipan dari sebuah kakawin Jawa Kuna yaitu kakawin Sutasoma, karangan Mpu Tantular semasa kerajaan Majapahit sekitar abad ke-14.  Kakawin ini istimewa karena mengajarkan toleransi antara umat Hindu Siwa dengan umat Buddha.

Kutipan ini berasal dari pupuh 139, bait 5. Bait ini secara lengkap seperti di bawah ini:  Rwāneka dhātu winuwus Buddha Wiswa, Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen, Mangka ng Jinatwa kalawan Śiwatatwa tunggal, Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.

Terjemahan: Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda.  Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali?  Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal.  Terpecah belahlah itu, tetapi satu jualah itu. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran. “

 

 

 

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *