Langkah Menggemaskan Setya Novanto

Oleh: Ditya Sibarani

Saya dan mungkin semua orang dibuat kaget dengan langkah konyol atau nekat Setyo Novanto (SN). Dari pertemuannya dengan Donald Trump sampai kasus ‘papa minta saham’ ke Freeport. SN, Golkar dan KMP. Apa yang dilakukan SN sangat dimungkinkan dilakukan untuk kelompoknya, yaitu Partai Golkar (PG) dan KMP. Sejak kampanye pilpres tahun lalu PG babak belur, sebagai pemenang kedua jangankan mengajukan calon presiden atau wapres, kursi menteri pun tidak mereka dapatkan. Akhirnya, masuk group cheerleader KMP, dan di sini pun PG tidak bisa unjuk gigi karena Ketua MPR diajukan dari PAN.

PG cukup mendapatkan kursi ketua DPR. Kekalahan berturut-turut ditambah dengan pertikaian internal mau tidak mau menguras keuangan PG. Untuk partai sebesar PG biaya operasional tdk cukup hy 1M /bulan dan semua itu harus ditanggung oleh ketua, pengurus dan anggota terutama yang mendapat jabatan di eksekutif atau legislatif.

Sebagai ketua umum PG, tanggung jawab keuangan partai masih di bawah ARB. Tapi apa yang bisa diharapkan dari ARB sekarang? Perusahaannya banyak yang tutup dan terlilit hutang hingga trilyunan Rupiah. Untuk mempertahankan bisnisnya dia harus pontang-panting. Bagaimana bisa diharapkan sebagai penyangga partai? Okelah kalau setahun-dua tahun masih bisa. Tapi untuk 5 tahun ke depan bagaimana? Apa mungkin Prabowo dan partainya mau menjadi sinterklas untuk PG? Apalagi mengharapkan PKS, tidak mungkin mengharapkan seorang cheerleader sebagai pemain inti dalam basket. Dan kalo tidak ada kader baru di PG yang handal maka bisa dipastikan tahun 2019, PG bukan hanya babak belur tapi remuk redam. Dan tentunya orang akan mikir utk berinvestasi di PG.

Kan ada Muhammad Riza Chalid (MRC) di KMP? MRC adalah pebisnis murni sejak dari kandungan. Dia akan membela siapa pun yang menguntungkan. Dia akan meminta imbalan untuk setiap sen yang dia keluarkan. Kalo saat ini kita memberikan keuntungan 100 Triliun sama dia, mugkin kita akan dipoles untuk jadi presiden di tahun 2019.

Di sinilah peran seorang SN dengan jiwa makelarnya yang terasah dan didukung oleh bos-bos KMP, tertantang untuk menyelamatkan keuangan PG. Karena PG adalah penyagga utama dari KMP. Apakah karena tulus? Entah, mungkin SN berharap dengan bantuannya sekarang maka anggota yang lain akan berpikir bahwa dia layak untuk menjadi ketua umum PG berikutnya.

Kenapa seorang SN harus nyosor sampai ke Freeport?

Freeport identik dengan orde baru dan keturunan orba berkumpul di KMP. Maka hal yang mudah bila SN bisa menembus Freeport ditambah dengan kedudukannya sebagai ketua DPR. Selama ini sudah menjadi rahasia umum bahwa, perusahaan rekanan Freeport banyak dimiliki oleh kroni-kroni pejabat dan penguasa negeri ini. Sebuah bisnis yang sangat menggiurkan bila bisa menyuplai barang atau jasa ke perusahaan raksasa seperti Freeport. Untuk katering saja, Freeport mengeluarkan 281 Miliar per tahun, bayangkan bagaimana dengan produk yang lebih bernilai. Menggiurkan bukan?

Pada zaman Presiden SBY, Freeport lebih memberi karpet merah kepada perusahaan swasta nasional untuk bekerjasama agar dekat dengan akses kekuasaan. Sementara pada zaman Jokowi, pola kerja sama akan bergeser ke perusahaan BUMN. Ini terjadi karena pemerintahan Jokowi hendak memberi ruang dan merevitalisasi BUMN dalam membangun negeri. Demikian pula dengan rencana divestasi saham, pemerintah mendorong BUMN Antam dan Inalum untuk memiliki saham Freeport dibandingkan membuka saham IPO yang hanya bisa dinikmati oleh segelintir pengusaha kaya.

Penolakan suntikan dana PMN dalam APBN 2016 (mungkin) salah satu cara DPR menjegal BUMN agar tidak memiliki dana untuk membeli saham Freeport yang lumayan mahal. Begitu juga kalau smelter jadi dibangun di Papua maka akan ada perusahaan pengangkutan dari Gresik ke Papua seperti selama ini yang akan kolaps. 

Perusahaan-perusahaan rekanan tersebut dipilih bukan karena kapabilitasnya, tapi karena kedekatannya dengan penguasa dan pejabat orde baru. Dan alam pun bekerja, ternyata sebagian besar pejabat dan penguasa tersebut berkumpul di geng cheerleader KMP. Maka jadilah SN sebagai ujung tombak paling layak karena jabatan yang kini pegang.

Seandainya renegosiasi KK yang diajukan pemerintah lolos maka akan banyak kerajaan-kerajaan kecil pejabat dan penguasa yang akan bergelimpangan. Karena itulah SN bersikap menggemaskan, manis di muka bahkan harus meneteskan air mata. Namun, brutal di … ah sudahlah. 

(Sumber: Facebook Ditya Sibarani)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *