by

Lain Saudi, Lain Indonesia

Oleh: Sumanto Al Qurtuby

Saya perhatikan ada banyak perbedaan mendasar antara masyarakat Arab Saudi dengan Indonesia, khususnya umat Islam, dalam melihat, menyikapi, atau mempersepsikan tentang berbagai hal.

Misalnya, dalam hal pemakaian cadar bagi perempuan. Masyarakat Saudi menganggap cadar (khususnya niqab) sebagai bagian dari budaya mereka yang tidak ada sangkut-pautnya dengan ajaran keislaman dan kualitas keislaman dan keberislaman seseorang.
Karena itu mau tidak berniqab pun ya terserah saja. Yang berniqab pun tidak menghalangi mereka untuk bersosialisasi dengan siapa saja dan melakukan aktivitas apa saja termasuk nonton pilem di bioskop, nonton konser musik, dlsb. Dulu cukup banyak yang berniqab tapi kini mulai menyusut, khususnya di kota-kota, seiring dengan perubahan sosial-keagamaan yang terjadi disini.

Bagaimana dengan Indonesia? Anda tahu sendiri. Perempuan kalau sudah bercadar sepertinya merasa “paling Islamih dan paling salehah sedunia-akherat”, terus bersikap eksklusif-tertutup alias tidak mau “srawungan” dengan yang lain karena mungkin berasumsi yang lain itu “tidak level” kualitas keislaman, keberislaman, & kesalehahannya. Dan seterusnya.

Perbedaan berikutnya tentang penyikapan terhadap bahasa Arab. Masyarakat Arab Saudi (dan juga masyarakat Arab lainnya, baik yang Arab Muslim, Kristen dan lainnya) menganggap bahasa Arab itu ya hanya sebuah bahasa biasa saja seperti bahasa-bahasa manusia lainnya. Mereka membedakan antara bahasa Arab dengan teks Al-Qur’an (yang memang memakai bahasa Arab klasik). Berbahasa Arab juga tidak membuat mereka merasa lebih relijiyes.

Kalau (sebagian) umat Islam Indonesia menganggap bahasa Arab itu seperti Al-Qur’an yang sakral dan suci nian. Karena itu bahasa Arab tidak boleh ditulis di sembarang tempat: toilet, bokong, sempak nanti bisa kena “ajab”.

Pula, sebagian umat Islam kalau sudah ngomong atau mengekspresikan sesuatu dengan menggunakan bahasa Arab (umi, abi, akhi, ukhti, ikhwan ikhwat, barakallah fi umrik, dlsb) merasa paling relijiyes sedunia-akherat kalah deh malaikat.

Padahal, masyarakat Saudi justru sedang giat-giatnya belajar bahasa Enggress supaya kelihatan “lebih intelek” qiqiqi. Bukan hanya Enggres, sekarang mereka juga belajar bahasa Mandarin biar dapat “cuan” lebih banyak lagi

Hal lain yang juga sangat kontras adalah soal kata “syariat” atau “halal”. Di Indonesia, sebagian umat Islam “demam” dengan kata “syariat”. Karena itu, kalau bisa semua “disyariatkan”, maksudnya diberi nama “syariat”, supaya lebih Islamih & afdol.

Misalnya: bank syariat, perda syariat, perumahan syariat, kos-kosan syariat, wisata syariat, dlsb. Di Arab Saudi atau seantero Arab Timur Tengah, nyaris susah dijumpai ada nama sebuah bank, perumahan, atau lainnya memakai embel-embel kata “syariat”. Disini juga tidak dijumpai ada kompleks perumahan yang khusus Muslim/Muslimah misalnya seperti di negara “Khilafah Endonesah”

Selain kata “syariat”, kata “halal” juga booming di Endonesah. Dikit-dikit pakai label halal: wisata halal, kuliner halal, kulkas halal, panci halal, termos halal, kutang halal, cawet halal…Omaigattt

(Sumber: Facebook Sumanto Al Qurtuby)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed