by

Kutu Buku dan Spiritualitas

Oleh : Satriyo Tyas Wening

Sejauh pengamatan saya selama ini, ada sebuah propaganda hoaks yang sangat jancuk sekali yang berusaha ditanamkan dalam diri anak muda yang mulai menggilai dunia baca dan buku. Seperti di antaranya, ada upaya mengasosiasi atau menggiring opini, jika para pecinta buku atau kutu buku itu sudah pasti adalah pribadi introvert yang terutup, atau bahkan pribadi yang berpenyakit ansos (anti sosial), yang hanya bisa nyaman ‘ndekem’ di rumah dan perpustakaan.

Mereka hanya ‘saklek’ asyik masyuk dengan buku, pribadinya dingin, kaku, serius, dan tak punya selera humor. Juga mereka menjadi pribadi culun yang takut mengekspresikan diri di muka umum, takut menyatakan pikiran dan perasaannya secara terbuka kepada publik luas.Apakah benar semua persepsi para propagandis itu? Tentu saja sama sekali tidak benar!

Tetapi bagaimanapun, akibat adanya propaganda asosiasi mental yang sesat itu, ada juga sebagian anak muda yang menggilai dunia baca dan buku yang terpengaruh.Karena mereka doyan membaca buku, tetapi orang-orang di sekelilingnya sama sekali tidak doyan membaca buku. Lalu dalam ilusinya, seolah-olah dirinya bak malaikat pengetahuan yang kakinya terlalu suci untuk menapaki realitas di bumi sosial yang dipikirnya dangkal. Sehingga kepekaan sosial mereka menjadi benar-benar lumpuh, teracuni oleh keangkuhan ala “intelektualis menara gading” yang tak sudi bergumul dengan masyarakat sekitar dan segala lintas kalangan, yang dikiranya mereka semua itu awam soal pengetahuan.

Para anak muda yang mencintai dunia baca dan buku yang terpengaruh menjadi parasit peradaban seperti itu, menurut saya serupa dengan mereka yang baru mempelajari “satu agama” dan membaca hanya “satu kitab suci” lantas juga menjadi parasit peradaban yang ‘jumawa’ menasbihkan diri sebagai manusia paling mengerti, suci, dan maha benar sendiri se-alam semesta, lalu tidak sudi lagi hidup harmoni dan bertoleransi dengan kalangan lain yang berbeda agama.

Demikian pula dengan sebagian anak muda penggila dunia baca dan buku yang menjadi parasit peradaban itu, mereka sebenarnya hanyalah gambaran dari para intelektual lumpuh, yang tidak tau sama sekali apa hakikat kegunaan dan manfaat dari membaca buku, yang tidak lain adalah agar kita bisa menjadi “lentera masyarakat dan lentera peradaban”.Jadi sungguh-sungguh dungu jika mencintai buku, mencintai pengetahuan hanya sebatas untuk sibuk onani dalam kenikmatan pikirannya sendiri.

Dan untuk itu, para kutu buku yang tersesat semacam itu perlu dibuka mata kesadarannya. Bahwa di luar sana, ada banyak penulis-penulis luar biasa dan yang telah melahirkan banyak karya-karya yang luar biasa pula, tetapi ternyata mereka juga tidak menjadi sosok ansos yang elitis, atau intelektualis menara gading yang tidak berguna sama sekali di mata peradaban. Contoh kecil yang bisa saya sebutkan adalah Mbak Dee Lestari dan Mbah Sujiwo Tejo. Keduanya adalah penulis banyak buku dengan tema-tema yang menurut saya sangat hebat. Keduanya juga sosok yang dianugerahi dengan kecerdikan yang multitalenta. Dan siapa pula yang berani meragukan tingkat intelektualitas dan lamanya pengembaraan mereka di rimba dunia baca?

Tapi toh, nyatanya pribadi mereka tetap mampu untuk lentur dan membaur dalam ‘bebrayan agung’ atau realitas sosial. Dan rasa-rasanya tidak seinchipun kehidupan mereka menunjukkan sisi culun asketik seorang introvert ansos.Selanjutnya jika kita mengamati perputaran gerak dunia yang semakin ‘awut-awutan’ ini, ketakutan menyatakan kebenaran secara terbuka khas seorang introvert ansos rasa-rasanya sangat tidak layak untuk dibutuhkan. Ilmu dan pengetahuan apapun itu yang kita dapatkan dari lembaran-lembaran buku sudah selayaknya menjadikan kita sebagai lentera-lentera peradaban. Karena bahkan jika kita amati secara seksama, manfaat kegiatan membaca buku itu ternyata tidak hanya berhenti pada kecermelangan aspek kognisi atau intelektual semata.

Kegiatan membaca buku pun juga bisa kita resapi sebagai praktik spiritual yang mendalam. Ketika kita membaca buku, kita bisa menyadari disitu ada praktik kerendahan hati untuk menyimak dengan sabar isi pikiran dan hati orang lain. Selain itu, juga sebagaimana kita dalam meditasi, pikiran ditempa untuk merealisasi keheningan dengan melatih pikiran untuk terpusat/khusyuk sehingga pikiran tidak mudah bergejolak melompat ke bayangan masa lalu, maupun pergi berkhayal ke masa depan. Pikiran dikondisikan untuk menjadi penyimak sejati yang bisa sepenuhnya mengamati keberadaan “di sini” dan “saat ini”. Nah, jika dalam meditasi, keheningan diraih dengan ketekunan dan asyik masyuk mengamati obyek meditasi yang ada. Dalam kegiatan membaca, keheningan diraih dengan ketekunan dan asyik masyuk mengalir bersama kata-kata

Dan selanjutnya yang tidak kalah pentingnya, tentunya membaca buku adalah sebuah momen keterhubungan dengan Tuhan sebagai Sang Pemberi Pengetahuan. Maka tentunya membaca buku adalah juga sebuah laku spiritual bagi mereka yang ingin mengarahkan pikirannya pada Cahaya Pencerahan Pengetahuan. Sebab hanya dengan Cahaya Pencerahan Pengetahuan, Tuhan akan mengizinkan kita untuk dapat menyaksikan kematian mengenaskan dari Setan Ketidaktahuan.

Inilah kiranya manfaat spiritualitas dari membaca buku. Tetapi meskipun demikian tetaplah ingat, mendapatkan pengetahuan dari buku, sekalipun itu dari buku yang dinamai kitab suci bukanlah puncak dari pengetahuan dan bukan pula tahap final dari perjalanan spiritual. Dalam terminologi spiritualitas Jawa bahkan dinyatakan dengan tegas, segala pengetahuan dan ilmu yang tertulis itu hanyalah baru ‘Kitab Garing’ (Kitab Kering).

Masih ada pengetahuan yang lebih tinggi, yang lebih sejati, yang dinamakan ‘Kitab Teles’ (Kitab Basah) yang tidak tertuliskan dengan huruf dan aksara.Juga ada ekstase atau kebahagian batin yang lebih besar dari sekadar pengetahuan tulisan dan pencerahan intelektual. Pengetahuan sejati dan ekstase sejati itu akan didapatkan di jalan yang bernama “Meditasi”, sebuah perjalanan ke dalam diri dan ke dalam lautan keheningan.

Dan tentunya ekstase spiritual dari pengalaman meditasi akan membawa Cahaya Pencerahan Pengetahuan dari Kitab Teles yang akan memancar seribu kali lebih terang dibandingkan yang dihasilkan jutaan buku pengetahuan dari Kitab Garing. Karena disitu tidak saja bisa menghapus Ketidaktahuan kita akan hal-hal di luar diri, Ketidaktahuan kita akan hal-hal di dalam batin pun juga bisa dibuat sirna seutuhnya. Dengan meditasi, ‘gentur laku wening’, atau membaca Kitab Teles ini, bahkan tidak saja akan membawa kemudahan atau kejelasan bagi kita dalam membaca buku-buku pengetahuan Kitab Garing, melainkan juga akan mudah bagi kita dalam membaca jejak-jejak makna dalam segala realitas kehidupan.———-✍🏻

Sumber : Status Facebook Satrio Tyas Wening

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed