by

Kriteria Pemimpin Menurut Ajaran Nusantara

Oleh : Tito Gatsu

Dalam Filosofi Leluhur Nusantara Bisa Meramalkan Tokoh Yang Membawa Ke Zaman Keemasan Ilmu Sastra Jendra itu adalah, barang siapa yang menyadari dan mentaati benar makna yang terkandung di dalam ajaran itu akan dapat mengenal watak (nafsu-nafsu) diri pribadi. Nafsu-nafsu ini selanjutnya dipupuk, dikembangkan dengan sungguh-sungguh secara jujur, di bawah pimpinan kesadaran yang baik dan bersifat jujur. Dalam pada itu yang bersifat buruk jahat dilenyapkan dan yang bersifat baik diperkembangkan sejauh mungkin. Kesemuanya di bawah pimpinan kebijaksanaan yang bersifat luhur sehingga dapat mencapai kesempurnaan hidup.

Ada tujuh tahapan atau tingkat yang harus dilakukan apabila ingin mencapai tataran hidup yang sempurna, yaitu :

1.Tapaning jasad, yang berarti mengendalikan/ menghentikan daya gerak tubuh atau kegiatannya. Janganlah hendaknya merasa sakit hati atau menaruh balas dendam, apalagi terkena sebagai sasaran karena perbuatan orang lain, atau akibat suatu peristiwa yang menyangkut pada dirinya. Sedapat-dapatnya hal tersebut diterima saja dengan kesungguhan hati.

2. Tapaning budi, yang berarti mengelakkan/mengingkari perbuatan yang terhina dan segala hal yang bersifat tidak jujur.

3.Tapaning hawa nafsu, yang berarti mengendalikan/melontarkan jauh-jauh hawa nafsu atau sifat angkara murka dari diri pribadi. Hendaknya selalu bersikap sabar dan suci, murah hati, berperasaan dalam, suka memberi maaf kepada siapa pun, juga taat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Memperhatikan perasaan secara sungguh-sungguh, dan berusaha sekuat tenaga kearah ketenangan (heneng), yang berarti tidak dapat diombang-ambingkan oleh siapa atau apapun juga, serta kewaspadaan (hening).

4.Tapaning sukma, yang berarti memenangkan jiwanya. Hendaknya kedermawanannya diperluas. Pemberian sesuatu kepada siapapun juga harus berdasarkan keikhlasan hati, seakan-akan sebagai persembahan sedemikian, sehingga tidak mengakibatkan sesuatu kerugian yang berupa apapun juga pada pihak yang manapun juga. Pendek kata tanpa menyinggung perasaan.

5. Tapaning cahya, yang berarti hendaknya orang selalu awas dan waspada serta mempunyai daya meramalkan sesuatu secara tepat. Jangan sampai kabur atau mabuk karena keadaan cemerlang yang dapat mengakibatkan penglihatan yang serba samar dan saru. Lagi pula kegiatannya hendaknya selalu ditujukan kepada kebahagiaan dan keselamatan umum.

6.Tapaning gesang, yang berarti berusaha berjuang sekuat tenaga secara berhati-hati, ke arah kesempurnaan hidup, serta taat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Mengingat jalan atau cara itu berkedudukan pada tingkat hidup tertinggi, maka ilmu Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu itu dinamakan pula “Benih seluruh semesta alam.”

7. Laku, artinya perbuatan manusia itu sendiri sebagai pembuktian rahasia alam semesta ini di mana segala rasa ada di dalamnya. Oleh karena itu isi alam ini sesungguhnya yang tidak dapat dipungkiri, tidak ada keabadian, tidak ada kedamaian yang kekal, dan selalu berpasang-pasangan antara gelap dan terang, yang jahat dan yang baik, dan tanpa adanya kejahatan maka kebaikan itu sendiri tidak ada, begitu pula sebaliknya. maka yang menjadi tujuan kesempurnaan hidup itu adalah adanya keseimbangan di dalam hidup dan kehidupan.

Oleh karena itu, semakin jelas bahwa fungsi Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu adalah sebagai kunci untuk dapat memahami isi rasa jati, di mana untuk mencapai sesuatu yang luhur itu diperlukan mutlak perbuatan yang sesuai. Rasa jati memperlambangkan jiwa atau badan halus ataupun nafsu sifat tiap manusia, yaitu keinginan, kecenderungan, dorongan hati yang kuat, ke arah yang baik maupun yang buruk atau jahat. Nafsu sifat itu ialah; Luwamah (angkara murka), Amarah, Supiyah (nafsu birahi).

Ketiga sifat tersebut melambangkan hal-hal yang menyebabkan tidak teraturnya atau kacau balaunya tatanan alam semesta dalam berbagai bidang, antara lain: kesengsaraan, malapetaka, kemiskinan dan lain sebagainya. Sedangkan sifat terakhir yaitu Mutmainah (nafsu yang baik, dalam arti kata berbaik hati, berbaik bahasa, jujur dan lain sebagainya) yang selalu menghalang-halangi tindakan yang tidak sesuai dengan tatanan. Semoga apa yang tertulis diatas bisa membangkitkan wawasan kebangsaan dan nasionalisme terutama untuk generasi muda dan milenial dengan kembali mencintai budaya Nusantara , dan bagaimana memilih kriteria pemimpin yang sesuai dengan amanat ajaran luhur bangsa. Salam Persatuan dan Cinta Indonesia.

Sumber : Status Facebook Tito Gatsu

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed