by

Korea, Arab Saudi atau Indonesia Negeri Surga Itu?

Diskriminasi dan rasisme terhadap orang kulit hitam, Indian dan kulit berwarna disembunyikan dibawah karpet Demokrasi. Ternyata Amerika Serikat juga bukan negeri idaman.

Di satu sisi, anak-anak muda Indonesia sangat mengidolakan Korea. Barang-barang Korea, kosmetik Korea, operasi plastik Korea, film Korea, makanan Korea, musik Korea, dan artis-artis Korea. Segala sesuatu yang berlabel Korea adalah idaman dan hebat.

Sementara generasi muda Korea melihat kehidupan dan negeri Indonesia dengan takjub. Di mata mereka Indonesia adalah surga yang mereka dambakan. Negeri indah, manusia-manusia ramah, kehidupan santai tanpa tekanan dan stress, makanan-makanan enak, buah buahan berlimpah sepanjang musim, dan semua serba murah buat mereka.

Di negaranya mereka selalu stres karena dituntut harus berprestasi, sehingga mereka yang tidak kuat banyak melakukan bunuh diri.

Sebagian masyarakat kita sangat mengidolakan semua yang berbau Arab dan Timur Tengah. Karena semua yg berbau Arab dikonotasikan ‘dekat dengan Nabi’.
Buah-buahan Arab, pakaian ala Arab, jenggot harus seperti orang Arab, minyak wangi Arab, makanan Arab, musik gambus Arab dan gaya ngomong ala Arab, semua itu dipandang lebih “bergengsi” dan bahkan dianggap lebih alim, saleh, dan syar’i.

Mereka baru melek ketika menjadi TKI dan TKW, ternyata di Arab masih banyak juga yang perilakunya lebih dekat ke Abu Jahal dan Abu Lahab ketimbang meniru perilaku Nabi.

Padahal sebaliknya orang orang Arab/Timur Tengah begitu terpesona melihat keindahan negeri dan kedamaian yang ada di Nusantara. Negeri serpihan surga, kata mereka.

Ada sungai mengalir di mana-mana, berbagai jenis buah buahan, pepohonan rindang, gunung-gunung tinggi menjulang, makanan beragam citarasa, pemandangan indah, banyak tempat sejuk, tidak ada perang, tidak ada bom dan tidak ada saling bunuh, dan yang terpenting banyak yang geulis-geulis.

Sebagian warga kita juga sangat memuji-muji kehidupan bahagia, sejahtera dan harmoni di negara-negara Skandinavia.
Sementara orang-orang Skandinavia mendambakan hidup di Indonesia, negara dengan sinar matahari sepanjang tahun, harga-harga murah, dan yang terpenting negara dengan pajak pendapatan yang jauh lebih rendah dari negaranya (di negara mereka pajak penghasilan pribadi sekitar 50%-60%). Masih pengen hidup di Belanda dan Denmark?

Sebagian kelompok warga kita mendambakan negara berlandaskan khilafah. Mereka menganggap khilafah adalah solusi untuk semua masalah.
Negara Demokrasi dan Pancasila adalah penyimpangan dari jalan agama.

Sayang belum ada contoh negerinya dalam kehidupan nyata. Yang pernah ada adalah negeri ISIS, yang mengaku-aku negeri khilafah, tapi setiap hari yang dipertontonkan adalah pembunuhan, perkosaan, penyiksaan dan penyembelihan terhadap sesama manusia dengan mengaku-aku atas nama agama.

(Mereka lupa menyebutkan bahwa sejarah negeri khilafah tidak semata bicara tentang masa keemasan, tetapi juga era kegelapan. Perebutan tahta yang turun-temurun antara dinasti Umayyah dan Abbasiyah, perang saudara, pertumpahan darah, intrik kekuasaan dan pembantaian sesama muslim atas nama agama, adalah sisi paradoks di balik kejayaannya).

Jadi dimana negeri surga itu…???

“Negeri dimana kita mensyukuri keberadaan kita”.

Tiba-tiba Mbok Inem pemilik warung nyeletuk sambil menyodorkan rebusan Indomie telor 6500 rupiah dan kopi tubruk 3000 rupiah, sayup-sayup terdengar lagu “Pamer Bojo” milik Didi kempot .

Tuhan, inikah surga??

Sumber : Status Facebook Eddy Sinang Trenggono

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed