Konyolnya Sertifikasi Halal

 

Oleh: Hasanudin Abdurakhman
 

Kita membeli minuman teh dalam kemasan berlabel halal. Bisakah Anda bayangkan proses untuk mendapatkan label halal itu? MUI menetapkan seluruh bahan dan alat yang dipakai untuk produksi tersebut harus halal. Apa bahan untuk membuat sebotol teh?

Pertama air. Lho, bukankah air itu halal? Ya. Tapi air itu diolah. Pengolahnya harus dipastikan halal. Maka produsen karbon aktif, atau membran, perlu membuat sertifikasi halal bagi produknya, karena produk-produk ini bersinggungan dengan bahan baku makan tadi, yaitu air.

Coba bayangkan, apa fungsi alat-alat filtrasi seperti karbon aktif atau membran itu? Memfilter! Memfilter atau menyaring, artinya menahan bahan-bahan pengotor. Apa tujuan filtrasi? Menahan kandungan apapun dalam air, selain air. Itu termasuk protein, lemak, mineral, virus, bakteri, dan lain-lain. Hasil filtrasinya dicek secara kimia dan fisika di laboratorium. Artinya, bahan-bahan ini berfungsi menyucikan, bukan mengotori. Meskipun misalnya ia terbuat dari bahan yang haram sekalipun, ia tidak akan menghasilkan air yang mengandung bahan haram. Karena kandungan selain air ditahan, dan penahannya (dalam hal ini karbon aktif atau membnran) tidak mencemari air. Kalau sampai mencemari, ia tak akan dipakai sebagai penyaring.

Kemudian kemasan. Botol kemasan paling banyak terbuat dari PET. Maka produsen PET pun membuat sertifikat halal untuk produknya. Kemasan harus halal. Wadah harus halal. Tapi apakah piring dan gelas yang kita pakai di rumah juga harus ada sertifikasi halal? Bagaimana dengan sendok, panci, dan sebagainya?

Sebenarnya bagaimana ketentuan soal halal haram ini? Zaman dulu tak banyak kerumitan soal ini, karena memang tidak rumit. Yusuf Qardawi dalam buku “Halal dan Haram dalam Islam” menjelaskan bahwa tidak perlu kita menyelidiki secara detil soal status halal haram makanan atau minuman yang kita makan. Segelas teh yang dihidangkan pada kita adalah halal, karena hukum asalnya minuman teh itu halal. Tidak perlu kita selidiki apakah daun teh atau gula yang dipakai dibuat dengan proses yang halal atau tidak. Ajaibnya, itulah yang dilakukan atau lebih tepatnya dituntut oleh tim sertifikasi halal MUI. Artinya, yang dilakukan dengan sertifikasi halal ini jauh melampaui yang dibutuhkan.

Bagaimana dengan barang-barang lain selain makanan? Yang saya tahu, untuk kulit memang ada ketentuan harus disamak bila hewan yang diambil kulitnya tidak disembelih secara Islam. Dugaan saya ini untuk memastikan agar kulit yang dipakai adalah kulit yang bersih, tidak bernajis. Dengan teknologi pengolahan kulit yang ada saat ini apakah proses penyamakan ini masih perlu? Menurut saya tidak.

Jadi apa masalahnya? Masalahnya adalah, orang-orang digiring untuk menjadi rumit dalam soal kehalalan ini. MUI tidak membuat masalahnya menjadi mudah. Semakin lama semakin banyak produk yang harus disertifikasi dan diawasi. Sesuatu yang menurut saya pada awalnya tidak diperlukan.

Tanpa disadari MUI sudah diperalat oleh berbagai produsen untuk membangun branding dan positioning mereka. Atau, sebenarnya mungkin MUI sadar dan menikmatinya.

Saya tidak ingin berumit-rumit lagi. MUI itu bukan Tuhan yang menentukan halal haramnya sesuatu. Sesuatu yang dikatakan halal oleh MUI hanyalah sesuatu yang sudah diinspeksi sesuai prosedur MUI. Bagaimanapun juga kita tidak bisa katakan itu 100% halal. Karena yang menginspeksi manusia, bukan? Sebaliknya, sesuatu yang tidak diberi label halal oleh MUI juga tidak otomatis haram.

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *