by

Komitmen “Pelayaran”

Oleh : Zulfikar Matin Efendi

Seorang kawan asal Kanada, pernah bilang ke saya, “zul, saya gak akan pernah nikah! Tidak akan pernah! Tidak akan pernah! Buat berhubungan badan doang, ngapain saya harus nikah?! Lebih baik hubungan tanpa administrasi tertulis apa-apa. Lagi kepengen, tinggal jajan semalem. Lebih baik memelihara anjing daripada punya anak kecil, ribet, mereka lebih setia. Daripada kalau cerai, saya harus kehilangan setengah dari harta saya!”

Begitu kurang lebih ucapan dia yg saya perhalus kalimatnya, dengan bahasa inggris kanada yg lebih slang dan kasar. Maklum, kita orang lapangan.Saya tergelitik menulis ini karena sesaat saja sebelumnya lewat di timeline saya, berita kelahiran anak kedua dia setelah tujuh tahun menikah.. Ambillah pelajaran:

Serendah-rendahnya niatan utk menikah adalah ‘menghalalkan kemaluan’. Walaupun niat ini tidak menggugurkan keabsahan akad, tapi jika ini satu-satunya niat, betapa hina dan rendahnya.

Pernikahan itu tentang ‘relationship’ seluruhnya, setidaknya meliputi: 1. Tanggung jawab, 2. Kasih sayang, 3. Pendidikan/pembinaan, 4. Kepemimpinan, dan 5. Kesetiaan.

Jika pernikahan adalah bahtera, maka seorang lelakinya haruslah seorang nakhoda yg cakap dalam kepemimpinannya, punya visi yg jauuh, arah tujuan pelayaran jelas dan terkomunikasikan, berani ambil resiko dikala badai, tidak lembek, dan mempunyai sifat-sifat pendidik bagi seluruh kelasi kapal. Disebut juga Kapten, dan dia setia memilih karam bersama kapal jika diperlukan. Perempuannya, ibarat muallim, atau chief officer, atau wakil kapten. Seluruh pekerjaan nakhoda diatas kapal, dia kuasai juga seluruhnya. Tapi keputusan dikala ada nakhoda, dia taati. Dikala nakhoda absen, dia ambil kendali sama pandainya.

Muallim dan Nakhoda, tak terpisahkan berdiskusi hangat, baik saat laut tenang dan cerah, ataupun dikala badai hebat saat malam gulita.

Maka mari bercermin, bapak-bapak..Sudahkah kita menjadi pemimpin diatas bahteramu sendiri? Pemimpin yg tahu persis isi gudang logistik, mengerti keadaan dan kualitas muallim, mengenal para kelasi bagaikan mengenal punggung tangan sendiri. Ataukah masih nyaman dengan julukan “ikatan nakhoda takut muallim” (isti)??

Jika tersirat keinginan untuk memimpin dua atau lebih bahtera bersamaan, jangan bermimpi; jika berlayar saja masih sembunyi-sembunyi.. Bagaikan penyamun yg takut ketahuan! Pastikan bahtera pertama telah dilengkapi seluruh fungsi keselamatan, jaringan komunikasi canggih yg tidak putis-putus atau kemeresek, dan muallim sepenuhnya bisa dipercaya memegang amanah kemudi, tetap sesuai visi kapten.

Visi (niat) pelayaran itu mestilah agung, karena jalan yg akan ditempuh pun amatlah panjang.. Jangan bahtera dikaramkan dengan satu-dua kembang api atau petasan utk tujuan bersenang-senang ala bocah tanpa kemampuan. Kita akan buang jangkar nanti, masih jauh didepan, di kampung akhirat yg selamat, yg Allah janjikan.Hayu, berlayar bersama, pegang erat kendali jaminan keselamatan yg telah disabdakan. Satu, dua, tiga bahtera, bercerminlah dahulu untuk menjadi ukuran.

Sumber : Status Facebook Zulfikar Matin Effendi

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed