Kisah Hidup Seorang Teroris

Mahasiswi ini ditemukan di pondok tersebut di atas, dan akhirnya dia pulang atau “dipaksa pulang” ke rumah orang tuanya. Saat itulah perubahan lebih mencolok terjadi. Pakaian sudah tidak seperti muslimah pada umumnya, dan dia berani menentang orang tuanya.
Beralih ke napi teroris. Si napi setelah menjalani sekian tahun di penjara Madura, kemudian dia dilayar atau dipindah ke penjara Probolinggo. Sesudah menjalani hukuman satu tahun, dia bebas. Bebasnya si napiter hampir berdekatan dengan kembalinya si mahasiswi ke orang tuanya.
Si napi ini bisa berkomunikasi lagi dengan si mahasiswi. Komunikasi ini menjadikan hubungan ideologisnya menguat kembali.
Satu sisi orang tua senang karena anaknya kembali.Tapi di sisi lain, orang tuanya merasa kesulitan menyadarkannya. Untuk itu, mereka meminta ke kiai pengasuh pondok warga NU yang dahulu pertama kali si mahasiswi mondok. Ternyata dia malah mengurung diri di gotakan pondok itu dan tidak mau ngomong, bahkan dengan kiainya juga diam. Karena begitu, akhirnya kiainya menyerahkan kembali kepada orang tua.
Kembali lagi ke rumah bersama orang tua tidak lama, dan cilakanya dia bisa berkomunikasi dengan si napi teroris yang sudah bebas itu. Suatu hari si mahasiswi meminjam sepeda pancal tetangganya dengan pakaian biasa (tidak bercadar sebagaimana yang dia pakai selama ini).
Sesampai di sebuah toko Indomart, sepeda ditinggal, dan dia naik bis ke arah barat mencari si “suami” yang napi teroris itu. Dia menghilang lagi dan menyusahkan orang tuanya lagi.
Lama tak bisa dideteksi keberadaan, baru-baru ini ada informasi si mahasiswi dan si napiter diusir dari kosnya karena beberapa bulan tidak membayar sewa kos. Kabar dari ibu kosnya, si mahaisiwi ini hamil tujuh bulan.
***
Pelajaran yang bisa diambil:
1. Dia membuat kecewa berat orang tua dan kiainya. Ternyata akhirnya hidupnya mengalami kesulitan di saat mau mempunyai bayi. Dalam kondisi demikian, maka mudah saja orang-orang seperti ini mencari jalan pintas yang katanya bisa ke surga dengan melakukan tindakan di luar nalar sehat dan di luar nalar agama yang waras.
2. Faham terorisme, radikaisme dan intoleran ini berbahaya dan bisa mengakibatkan hilangnya masa depan, hilangnya cita-cita dan harapan orang tua, bahkan hilangnya anggota keluarga (baik anak, kakak, adik dan orang tua itu sendiri). Oleh karena itu mari kita bentengi anggota keluarga kita agar supaya terhindar dari pemahaman terorisme, radikalisme dan intoleran.
 
Sumber : Status Facebook Ainur Rofiq Al Amin

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *