Khilafah Tahririyah Atau NKRI Warisan Nabi?

Dari unsur-unsur negara yang di-copy dari negara Nabi Saw, bukan hanya Khulafaur Rasyidin yang nge-paste-nya, ternyata NKRI juga memiliki unsur-unsur negara Nabi Saw. Indonesia punya kepala negara yang disebut Presiden, ibukota negara Jakarta, ada wazir yang disebut Menteri sebagai pembantu Presiden.
Daerah-daerah tingkat provinsi dipimpin oleh wali yang disebut gubernur. Ada 34 wali/gubernur di Indonesia. Di kabupaten/kota dipimpin oleh amil yang bupati/walikota. Ada 415 amil (bupati) kabupaten, 93 amil (walikota) kota.
NKRI mempunyai majls syura yang disebut MPR, DPR dan DPRD. Untuk menjaga pertahanan dan keamanan negara ada pasukan terlatih dan profesional yang disebut Tentara Nasional Indonesia (TNI), terdiri dari angkatan darat, laut dan udara. Tiap matra punya pasukan khusus: Kopassus, Marinir dan Paskhas. Ada akademi militer untuk merekrut, mendidik dan melatih tentara yang tangguh.
Untuk menjaga keamanan, ketertiban masyarakat dan penegakkan hukum ada polisi. Kepolisian Indonesia mempunyai Mabes Polri, Polda, Polres dan Polsek. Ada Akpol dan PTIK tempat pendidikan polisi yang profesional. Ada Brimob, pasukan elit polisi.
Di NKRI ada pengadilan: Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi, Pengadilan Tata Usaha Negara, Pengadilan Agama, Pengadilan Militer, Mahkamah Agung, Mahkamah Konstitusi.
NKRI memiliki sistem suksesi kepala negara yang dinamakan Pemilu / Pemilihan Presiden. Suksesi di Indonesia prosesnya lebih rumit, lebih lama dan lebih sistematis jika dibandingkan dengan suksesi di masa Khalifah Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan Hasan.
Kendati demikian esensi bai’at penyerahan kekuasaan dari rakyat sebagai pemilik kepada kepala negara sebagai pemegang amanah kekuasaan tetap ada pada Pemilu / Pemilihan Presiden. Rukun – rukun bai’at tidak hilang.
NKRI berbentuk republik dan sistem pemerintahannya presidensial. Secara harfiyah, republik dan presidensial bukan khilafah tapi substansinya sama yaitu kekuasaan di tangan rakyat dan pelaksana amanah kekuasaan di tangan satu orang.
Nabi saw mewarisi al-Qur’an dan hadits. Bukan mewarisi khilafah, apalagi khilafah tahririyah. Berdasarkan al-Qur’an dan hadits, para ulama bersama pejuang bangsa membentuk suatu negara Republik Indonesia. Itulah esensi dari ‘ala minhajin nubuwwah.
Dengan demikian, NKRI berada di atas metode kenabian (‘ala Minhajin Nubuwwah). Makanya janggal rasanya, kalau Hafidz Abdurrahman dan kawan-kawan HTI masih istiqamah, sabar dan ikhlas memperjuangkan Khilafah Tahririyah di wilayah NKRI.
Sumber : Status Facebook Ayik Heriansyah

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *