by

Khilafah, Radikalisme dan Good Governance

Yang kedua, radikalisme yang terjadi di Indonesia masih berada pada dimensi psikologi, dan dengan demikian maka solusi yang jitu tidak mungkin datang dari tindakan represif militeristik.

Di sinilah bisa terlihat hubungan antara grievances dan radikalisme. Grievances dari pendukung Khilafah itu hanya satu, yaitu ketiadaan pemerintahan yang bersih dan berwibawa. Mereka melihat bagaimana korupsi yang tinggi, bagaimana sebagian orang bisa berada di atas hukum, bagaimana pemenuhan kebutuhan-kebutuhan hidup yang, menurut mereka, belum baik.

Karena kondisi ini maka mereka mencari alternatif pemerintahan yang menurut mereka bisa lebih baik dari sistem demokrasi Pancasila saat ini. Nah, mereka tidak mungkin memilih liberalisme, atau kapitalisme, apalagi sosialis-komunis. Satu-satunya pilihan yang tersedia adalah Khilafah.

Khilafah mampu menjawab kegalauan atas ketiadaan good governance tadi, karena sistem ini digambarkan sebagai sistem buatan Tuhan yang sempurna, atau paling tidak, lebih baik dari opsi-opsi yang ada. Ini ilusi yang karena konteks, mendapatkan nilai jual tertinggi untuk menjawab grievances mereka itu.

Nah, dalam kondisi ini maka proses kontra radikalisasi dan deradikalisasi tidak bisa hanya dilakukan dengan pendekatan teologis. Karena itu tidak menjawab kenapa sampai radikalisme itu muncul. Melawan ayat dengan ayat itu tidak akan efektif.

Sebaliknya, proses kontra dan de radikalisasi harus mengakar pada proses penghapusan grievances tadi, yaitu menjalankan pemerintahan yang bersih dan pemenuhan kebutuhan hidup.

#IndonesiaTanahAirBeta

Sumber : Status Facebook Alto Luger

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed