by

Ketika Covid Melejit

Oleh: Sahat Siagian

Angka penderita akibat Covid-19 di berbagai negara bukan cuma merambat naik tapi melejit ke atas. Tokyo, yang begitu yakin tidak perlu menunda pelaksanaan olimpiade, sekarang tengah mengalami krisis ketersediaan ruang perawatan di rumah sakit bagi penderita covid-19.

Di 5 negara bagian Amerika Serikat angka juga melejit. Saat ini paman Sam membubuhkan 84.000 kasus baru harian, jauh lebih banyak daripada apa yang sedang berlangsung di Indonesia. Senarai itu makin mencemaskan jika saya masukkan angka-angka yang juga melejit di China–meski secara keseluruhan belum mengkuatirkan, di Thailand, di Malaysia, dan di puluhan negara lain.

Yang mencemaskan, 5 negara bagian penyumbang kasus harian terbanyak di Amerika Serikat sekarang adalah mereka yang secara mayoritas menolak vaksinasi. Berbeda dengan China, Hongkong, sejumlah negara Eropa dan beberapa yang lain. Kecuali Inggris dan Jerman, ketersediaan vaksin jauh kalah cepat dibandingkan dengan animo masyarakat untuk mendatangi pusat-pusat vaksinasi. Itu sebabnya Inggris berani menyelenggarakan pesta+pesta olahraga dengan kehadiran penonton ratusan ribu. Keterpaparan memang naik. Tapi karena mereka sudah divaksin, itu tak lebih dari flu biasa.
Bagaimana dengan Indonesia?

Jumlah kematian dan keterpaparan di Jakarta juga melejit tapi turun ke bawah. BOR, bed occupancy ratio, sedang mendekati 60%, yang diharapkan terus bergerak turun menuju 50 sampai 40% pada pekan depan. Untuk jumlah kematian harian, Jakarta bahkan keluar dari 5 besar di Indonesia. Kemarin mencatat ‘hanya’ 69 kematian baru.

Saya melihat bahwa, perlahan tapi pasti, kesadaran warga Jakarta akan vaksinasi ikut melejit bersama pertumbuhan keterpaparan di dunia. Mereka juga berupaya untuk sedapat mungkin tinggal di rumah. Itu menjelaskan mengapa angka melandai di Jakarta. Tapi saya kuatir perbaikan yang terjadi cuma temporal. Ketersediaan vaksin bakal kalah cepat dengan kesadaran warga yang mulai melejit. Menkes bahkan sudah mengakuinya.

Sementara itu strain D sudah bermutasi ke strain baru yang lebih lengket di paru. Saya teringat ucapan Prof. Nidom. Dia tak percaya vaksin konvensional mampu menanggulangi pandemi ini. Virus bermutasi dengan cepat. Untuk itu dibutuhkan vaksin baru yang sanggup mengenali hal-hal pada varian atau strain baru. Butuh 6 bulan untuk membuatnya. Belum lagi urusan Emergency Use di masing-masing negara.

Akhirnya, ketika vaksin baru siap beredar, virus sudah bermutasi lagi ke strain maupun varian baru. Begitu terus tak habis-habisnya. Tanpa keberanian untuk melihat bahwa ada sesuatu yang sudah lahir sejak beberapa bulan lalu di Indonesia untuk menaklukkan Covid-19 beserta turunannya, kita tidak ke mana-mana.

Kedisiplinan warga, terutama DKI, akan memutus rantai penyebaran Corona. Tapi sampai kapan penurunan mobilitas ini berlangsung? Keriuhan menyambut vaksinasi sangat membesarkan hati. Tapi siapa yang berani menjamin bahwa vaksin konvensional bakal sanggup menaklukkan Covid-19 secara menyeluruh?

Atau memang kita tidak akan pernah menaklukkannya? Saya mulai meragukan kemampuan pemerintah kita dalam membaca peta persoalan. Mereka orang baik, saya tahu itu. Tapi pandemi covid 19 tidak sekadar membutuhkan orang baik.

(Sumber: Facebook Sahat Siagian)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed