by

Kepergiannya Menyejukkan

Dalam karir politik Pak Sby yg dianggap moncer karena dia presiden dua priode pertama pasca reformasi, sekaligus Sby juga mempunyai cacat hubungan dgn Bu Mega yg katanya mutung dgn Sby saat Sby maju jadi presiden dan menang, Bu Mega menganggap Sby anak durhaka, walau sebenarnya bs diterima, karena kontestasi adalah sebuah hak konstitusi anak bangsa, dan dalam politik sdh biasa. Tapi buat Bu Mega mngkn dihitung lain.

Momen penghormatan terakhir atas wafatnya Bu Ani, dan harap-harap cemas melanda sebagian rakyat Indonesia akankah Bu Mega datang melayat, dan terjawab sudah, hal itu terwujud. Bersalaman dgn Sby, menjadi suasana mengharukan dua anak bangsa mantan presiden, memberi siraman menyejukkan, karena selama ini telah terjadi hubungan yg krg menyenangkan utk di pandang. Indonesia butuh tauladan, butuh panutan, bukan permusuhan yg dipertontonkan seperti saat ini dimana proses kontestasi dijadikan lahan mengumbar ambisi dgn menabrak norma dan adab dgn cara biadab.

Semoga kedepan suasana terus menyejukkan penuh kedamaian, para orang tua bs jd panutan, yg muda-muda bs mendapat tauladan, yg berangasan kita pinggirkan.

Selamat jalan Ibu Ani, jasamu pasti terpatri dalam sanubari ibu pertiwi, hari akhirmu membawa suasana yg berarti utk negeri indah yg engkau sayangi. Doa kami menyertai.

 

(Sumber: Facebook Biakto)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed