by

Kenapa Harus Ada MPR?

Oleh : Sunardian Wirodono

Mengapa di dunia ini harus ada MPR (Majelis Permusyawaratan Rakyat)? Agar di dunia ini ada Indonesia. Setelah ada Indonesia, kemudian ada Soeharto, ada Golkar, ada Fadel Mohamad, ada Bambang Soesatyo, dan bertemulah kita dengan kata; Taik lu!Kesalahan pertama bangsa yang mengidap inferiority complex yang parah, ialah selalu memandang kekayaan ekonomi sebagai ukuran. Mangkanya dari sejak dulu, yang disebut elite atau pemimpin selalu yang secara ekonomi lebih kaya. Mangkanya pula kemudian ketika mengenal demokrasi pun, yang dipilih adalah yang kaya, karena yang kaya bisa ngasih amplop.

Dan hasilnya, lembaga-lembaga perwakilan yang dipercaya rakyat, selalu palsu dan mengundang hal-hal rawan. Memposisikan rakyat sebagai kambing-congek. Karena kursi-kursi kepercayaan mereka ubah jadi kursi kekuasaan, untuk kepentingan mereka sendiri. Perseteruan elit acap hanya memamerkan apa yang ada dalam otak kosong mereka. Sampai kapan akan berlangsung? Sampai akhirnya muncul generasi baru yang tak mengenal lagi Orde Baru. Soehartoisme masih menjadi sesuatu yang akut, hidup di tengah-tengah kita. Hingga kita berpikir berlebihan, bagaimana Indonesia setelah masa Jokowi berakhir? Tentu akan tetap jalan. Tapi bagaimana?

Semuanya akan sangat tergantung pada centhelan, yakni rakyat sebagai subjek pelaku. Jika rakyat masih ditempatkan sebagai objek, rela ditempatkan sebagai objek, dan tidak tahu jika hanya sebagai objek, akan selalu terbuka peluang bagi orang-orang seperti Fadel Mohamad, Bambang Soesatyo, juga nama-nama yang dibacapreskan sekarang ini. Rakyat bermutu, itu jaminannya. Dan itu dibuktikan ketika titik jenuh demokrasi terjadi pada Pilpres 2014,. Setelah 32 tahun di bawah cengkeraman Soeharto, dan kerika Reformasi 1998 cuma reformasi mbelgedhes, meski lumayanlah, bisa nurunin Soeharto.

Tapi ternyata ‘nurunin’ itu maknanya seperti ‘niruin’ Soeharto. Korupsi merebak di segala lini. Demokrasi elite malah cuma melahirkan oposan sakit hati, bukan oposan sejati. Hingga kita mengenal lebih sadis istilah cebong-kampret. Rakyat yang jenuh bisa mendesakkan nama Jokowi ke lauhul mahfudz, dan tak terlawan meski hanya dengan selisih kecil. Menunjukkan bagaimana beratnya jalan perubahan. Bahkan Megawati yang memiliki kekuasaan absolut di partainya, sebagai pemenang Pemilu pun, harus tunduk pada jalannya sejarah. Meski ada imbal-balik di situ, Nyoblos PDIP, Jokowi Presiden!

Momentum itu dimenangkan sebagian besar rakyat Indonesia. Syukurin memakai sistem demokrasi barat, yang selisih satu persen saja, yang lebih sedikit dinyatakan sebagai pihak yang kalah. Bisa jadi rakyat sudah jenuh waktu itu. Setelah pertama kali bisa memilih langsung, tetapi yang didapat cuma pepesan kosong selama dua periode. Hanya karena melihat sosok bongsor tetapi fisiknya doang. Doktrin militer kuat, masih dominan di otak manusia yang terjajah pandangan machoisme. Padal, sejarah mencatat, di tangan presiden sipil, negara Indonesia selalu mengalami perubahan-perubahan lebih genuine daripada ketika dipimpin presiden dari militer seperti Soeharto dan SBY.

Cuma konsolidasi masyarakat sipil masih rentan. Bisa saling tuding hanya karena beda pilihan. Bahkan masih tidak mau mengakui, bagaimana Jokowi jauh lebih berani mengambil keputusan; memutus mata-rantai dengan masa lalu yang buruk, dalam situasi transisi. Di situ tampak, apakah yang disebut MPR masih relevan keberadaannya? Tidak, baik secara politik dan kebudayaan, apalagi secara ekonomi. Ketika keputusan-keputusan besar masih atau harus dilakukan oleh seorang Presiden, maka sistem bernegara kita masih elitis, dan cenderung terus memposisikan rakyat sebagai objek.

Di situ MPR hanya menjadi kamuflase politik, tidak significan, tidak relevan. Jangankan memberi signal atau mengarahkan bangsa dan negara ini, mengarahkan syahwatnya sendiri kagak ngarti.Kalau misalkan seluruh rakyat Indonesia, yang sudah akil-baliq dan mempunyai HP ditanya; Apakah Anda membutuhkan MPR? Kita akan dengan segera mempunyai data valid untuk menilai, apakah lembaga tinggi negara itu berguna? |

Sumber : Status Facebook Sunardian Wirodono III

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed