by

Kematian Anjing Di Aceh

Oleh : Ef Nam

Salah satu kisah yang sangat menyentuh moral manusia sebagaimana ditunjukkan Nabi Muhammad SAW adalah kasih sayang beliau terhadap hewan.Sikap Rasulullah SAW terhadap ciptaan Allah ini tidak semata-mata didasarkan pada hubungan horizontal sesama makhluk Allah, tetapi juga didasarkan pada hubungan vertikal kepada pencipta makhluk.

Alkisah, Nabi Muhammad pernah “menyelamatkan” seekor anjing yang sedang menyusui anak-anaknya. Ceritanya, ketika itu Nabi Muhammad dan pasukan umat Islam sedang dalam perjalanan dari Madinah menuju Mekkah saat misi Fathu Mekkah (pembebasan Kota Mekkah). Di tengah perjalanan, Nabi Muhammad melihat ada seekor anjing betina sedang menggonggong dan menyusui anak-anaknya. Seketika itu, beliau memerintahkan salah seorang sahabatnya untuk berdiri di dekat anjing tersebut.

Tujuannya adalah agar para tentara umat Islam tidak mengganggu anjing yang sedang menyusui itu, juga agar anjing tersebut tidak menggigit para tentara, sehingga masing-masing tentara dan anjing bisa terus melanjutkan aktivitasnya, tanpa saling mengganggu satu sama lain. Bahkan karena sayangnya terhadap binatang, beliau tidak segan-segan menegur para sahabatnya yang berlaku aniaya, menyakiti, dan tidak memberi makan hewan peliharannya.

Sebagaimana dikisahkan dalam buku sejarah Arab kuno, orang-orang Arab jahiliyah kerap memasang cincin di leher unta, mencabuti bulu, dan memotong ekor. Bahkan, tak jarang mereka mengambil daging atau bagian tertentu dari tubuh hewan untuk dimasak. Tindakan itu berlangsung saat hewan dalam kondisi hidup dan sadar. Rasulullah pun melarang perilaku buruk itu seperti halnya binatang buas yang memakan binatang lain dalam keadaan hidup. Nabi Muhammad SAW melarang orang membebani hewan terlalu lama dan melampaui batas kemampuannya. Rasulullah pun meminta agar tidak memberikan cap tanda pengenal pada binatang di mukanya, melainkan di bagian-bagian tubuh binatang yang tak terlalu lunak.

Akhlak mulia Rasulullah terhadap binatang itu mengilhami sahabat, saudara sepupu, sekaligus menantunya yaitu Ali bin Abi Thalib. Beliau menasihati orang-orang supaya bersikap baik terhadap binatang-binatang, tak terkecuali hewan pengangkut.Ia berpesan, “Berbaik hatilah pada binatang-binatang pengangkut; jangan lukai mereka dan jangan muati mereka dengan beban yang melebihi kemampuan mereka.”Rasulullah juga melarang membunuh hewan tanpa alasan yang jelas. Beliau menyerukan agar tidak mengganggu hak-hak dan keberlangsungan hidup binatang.

Hal ini terlihat saat Rasulullah meminta sahabat mengembalikan telur burung yang baru menetas. Selain memberikan kesempatan hidup, Rasulullah berpandangan bahwa mengambil telur-telur itu bisa menyakiti induk mereka sebagaimana memisahkan anak-anak dari kasih sayang induknya. Sikap dan perilaku Rasulullah terhadap binatang itu menunjukkan peran manusia sebagai khalifah, bahwa kekhalifahan manusia di muka bumi bukan hanya untuk kepentingan hidup sesama manusia tetapi juga untuk alam, mengatur dan memelihara hak-hak makhluk seperti binatang dan tumbuh-tumbuhan agar mereka tidak teraniaya oleh perbuatan manusia. *Artikel ini ditulis berdasarkan kisah yang diceritakan dosen UNS, Muhammad Farkhan Mujahidin, kepada Kompas.com#SelamatJalanCanon

Sumber : Status Facebook Ef Nam

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed