by

Kemanusiaan Diatas Agama

Oleh : Nyoto Raharjo

Kenapa banyak sekali orang yang sangat antusias membicarakan Tuhan, surga, dan neraka ? Sebaliknya jarang sekali orang yang tertarik membicarakan tentang topik-topik kemanusiaan ? Ketika muncul dialog tentang Tuhan, surga, atau neraka, dimana didalam dialog itu ada keraguan tentang eksistensi dan pemahaman tentang Tuhan, surga, atau neraka, maka dengan seketika dialog tersebut akan berubah menjadi perdebatan sengit.

Muncul dalil-dalil, teori-teori, dan pembenaran-pembenaran yang bersifat sepihak, untuk mengajak lawan dialognya mengakui “kebenaran sepihak” yang dia paparkan. Sebaliknya jika lawan bicaranya dapat mementahkan dalil-dalil dan teori-teori yang dikemukannya, maka tetap saja dia akan berusaha dengan segala upaya untuk menggugurkan kebenaran yang yang disampaikan oleh lawan dialognya melalui alasan-alasan yang sama sekali tidak masuk akal, dengan cara mengkutak katik ayat agar sesuai dengan kepentingannya sendiri, mempertahankan ego sektariannya, agar tidak dianggap tidak benar oleh lawan bicaranya.

Kemudian ujung-ujungnya setelah dia tidak mampu lagi menyangkal kebenaran yang disampaikan oleh lawan dialognya, dia akan menutup dialog itu dengan kalimat : “Pokoknya yang terpenting adalah iman, saya akan memegang teguh iman saya sampai kapanpun”. 😁Bicara tentang Tuhan itu amatlah mudah, karena sumber jawabannya cuma ada didalam sebuah buku ; tidak dapat dibuktikan secara ilmiah dan nyata ; cuma berdasarkan asumsi, dan asumsi itu bisa berkembang liar sesuai dengan kepentingan yang bersangkutan.

Beda dengan bicara tentang kemanusiaan, dimana kitabnya seluas alam semesta raya ; dapat dilihat, didengar, digambarkan, dan dipelajari dan dibuktikan secara nyata dan ilmiah. Ilmu paling dasar daripada Kemanusiaan adalah Perbuatan Nyata. Disini tidak diperlukan dalil atau teori apapun untuk mendukung terwujudnya perbuatan benar itu. Ketika ada orang yang menuliskan cerita tentang kebajikan ; tidak perlu menghujatnya sebagai kafir atau tidak berTuhan, hanya karena tulisannya tidak memuja-muja Tuhan. Ketahuilah cerita tentang Kemanusiaan jauh lebih bermanfaat daripada cerita tentang Tuhan, karena Kemanusiaan adalah hal nyata yang harus kita hadapi setiap hari selama kita masih ada didalam dunia.

Dan hanya orang-orang yang memiliki kepedulian terhadap sesamanya saja yang gemar belajar tentang kemanusiaan. Sebaliknya .. Orang-orang culas, licik, intoleran, serakah, pamer image, lebih suka menyembunyikan kekotoran bathinnya dibalik topeng ketuhanan. Makanya banyak sekali orang yang sangat antusias ketika berbicara tentang Tuhan, karena pembicaraan tentang Tuhan tidak bisa dibuktikan dengan cara apapun, kecuali perang mulut yang berujung perpecahan dan permusuhan.

Hubungan antara manusia dengan Tuhan adalah hubungan dalam ranah private, bukan untuk dibicarakan, diperdebatkan, bahkan dibangga-banggakan didepan publik. Jadi tidak ada manfaatnya sama sekali pelajaran agama dicantumkan didalam kurikulum pelajaran sekolah ; karena terbukti tidak menjadikan masyarakat kita jadi lebih baik. Adalah jauh lebih bermanfaat jika pelajaran budhi pekerti kembali dicantumkan didalam kurikulum pelajaran sekolah ; karena pelajaran budhi pekerti lebih menekankan hubungan antar manusia daripada hubungan dengan Tuhan, yang kenyataannya tak lebih daripada “Lamise Lambe”.

Dan budhi pekerti inilah yang kita butuhkan untuk memperbaiki moral bangsa kita. Perbuatan nyata yang dilakukan oleh keluarga almarhum Akidi Tio, seorang pengusaha keturunan Tionghoa asal Langsa Aceh, bagi kemanusiaan ini, adalah bukti nyata akan betapa mulianya seorang anak manusia yang menjadikan Kemanusiaan sebagai pegangan utama hidupnya. Keluarga Akidi Tio telah menyumbangkan uangnya sebesar 2 (dua) Trilyun Rupiah, untuk dipergunakan bagi penanggulangan Covid-19 dan kesehatan di Sumatra Selatan. Sungguh luarbiasa 🙏🙏🙏

Sumber : Status Facebook Nyoto Raharjo

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed