by

Kemana Jokowi Setelah Kontrak “Petugas Partai” Selesai?

Oleh : Dahono Prasetyo

Berbeda dengan Ganjar Pranowo yang sudah memulai karir politiknya sebagai kader GMNI. Usai Reformasi kemudian memutuskan bergabung dengan PDI Perjuangan. Jokowi sesungguhnya bukan murni kader PDI Perjuangan.

Pada tahun 2005 Jokowi yang masih pengusaha mebel sukses belum masuk ke partai apapun. Jokowi sempat berkeliling dari partai ke partai meminta dukungan untuk maju sebagai calon Walikota Solo. Beberapa partai menolak karena Jokowi dianggap tidak punya cukup modal untuk menjadi orang nomer satu di Solo.

Akhirnya Ketua DPC PDI-Perjuangan Solo, FX Rudyatmo menggandeng Jokowi, memperkenalkan kepada Megawati untuk mendapat dukungan politik sebagai calon Walikota Solo. Mereka berdua akhirnya sukses menjadi duet kepala daerah 2 periode.

Bergeser ke Jakarta, atas peran Prabowo, maka Jokowi dipasangkan dengan Ahok yang juga mendadak masuk Gerindra untuk Pilkada.

Begitu pula dengan Gibran, masuk PDIP bukan melalui proses kader. Hanya seorang anak Presiden yang butuh kendaraan politik untuk menjadi Walikota. PDIP memberi karpet merah kepada Gibran dengan memperoleh suara di atas 80%. Sang adik ipar di Medan tidak jauh beda. Bobby menantu Jokowi mulus di pilkada kota Medan

Jadi kalau stampel “petugas partai” menjadi ganjalan psikologis bagi keluarga Jokowi bisa jadi ada benarnya. Cepat atau lambat mereka akan meninggalkan “rumah singgah” bernama PDI Perjuangan.

Jika memang Jokowi family ingin “mengakarkan” kekuasaannya pada akhirnya harus memikirkan memiliki partai sendiri, atau setidaknya berpindah partai. Pertanyaannya mengapa sekarang mereka sekeluarga lebih memilih merapat ke Gerindra? Mengapa ormas Projo yang sehidup semati dengan Jokowi tidak dijadikan partai politik?

Jawabannya tentu terkait usia Prabowo selaku CEO Gerindra. Prabowo yang sudah menua dan minim kaderisasi mustahil menyerahkan partai kepada Fadli Zon atau Rocky Gerung yang begitu setia pada dirinya. Mewariskan CV Gerindra kepada Jokowi sekeluarga sebagai upaya balas budi Prabowo yang 2 kali kalah terhormat melawan Jokowi namun masih memegang jabatan penting di pemerintahan.

Kesimpulannya : kontrak politik Jokowi sebagai “petugas partai” di PDIP habis di tahun 2024.Dari petugas partai di Solo, DKI hingga Istana Merdeka mentok 2 periode. Begitu pula anak dan menantunya.

Ini juga bukan sekedar persoalan keretakan hubungan dengan Megawati yang dibumbui adu domba dari eksternal partai. Bukan pula tentang haus kekuasaan. Cepat atau lambat Jokowi Family akan mewarnai demokrasi dengan menjadi pesaing dominasi gerbong PDI Perjuangan.

Pilihan Jokowi family ada 2, di Gerindra atau PSI.

Tidak ada pengkhianatan atau kacang lupa kulitnya. PDI Perjuangan sudah waktunya introspeksi, bukan menagih balas budi yang sebenarnya sudah dibayar lunas oleh sang petugas dari luar partai. Kontrak petugas partai di rumah politik PDI Perjuangan sudah selesai, mustahil nglunjak jadi pemilik rumah di saat para ahli warisnya sudah lebih dulu ngantri***

Sumber : Status Facebook Dahono Prasetyo

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 comment

  1. knp justru PDIP yg harus instropeksi?
    bukankah FAKTA Jokowi sdh ditolak waktu mau maju pilkada solo, terus di tarik pak FX Rudy, kemudian sejarah berulang ke anaknya Gibran yg dipilih Rudy utk gantikan Purnomo.
    PDIP tdk minta balas budi,
    setidaknya keluarga Jokowi punya etika kalo mau pindah partai.

News Feed