by

Kemana Bu Mega Mengarahkan Angin Berhembus?

Oleh : Sobar Harahap

Saya menolak kecewa dengan keputusan Bu Mega yang tidak mengumumkan calon presiden dalam peringatan HUT 50 PDI Perjuangan. Meski secara eksplisit calon itu tidak diungkapkan, tapi secara implisit Bu Mega sangat jelas kemana dia mengarahkan angin untuk berhembus.

Seluruh pidato politik beliau saya simak beserta detail-detail gesturnya, mimiknya serta aksentuasi atau penekanan-penekanan katanya. Bahkan berulangkali kawan saya yang rabun peta politik itu waktu nyimak sambutannya Bu Mega dengan pede berteriak-teriak, “waaah sudah jelas itu, Bu Mega bakal ngusung Ganjar jadi capres. Saya yakin itu, sangat yakin.”

Tapi sebisa mungkin penafsiran kawan satu ini saya buang. Selain kerjanya cuma lontang lantung, dia juga tidak pernah ngikutin berita politik up to date. Perkembangan dan hiruk pikuk politik dia juga tidak pernah nyimak. Lha kok ini dia berani-beraninya menafsirkan omongannya Bu Mega. Kalau di samping saya ada Pak Bambang Pacul, wah bisa-bisa kawan saya ini diumpat-umpat karena pasti dianggap telah kemajon dan kemlinthi.

Apalagi penilaian kawan itu cuma mengandalkan roso. Kalau cuma mengandalkan roso, mengandalkan kata hati ya tidak bisa dijadikan argumen buat diskusi dong. Lemah. Akhirnya saya jelasin panjang lebar soal dialektika, retorika, politik sampai simbol-simbol yang disampaikan Bu Mega.

Sebagai seorang ketua partai yang memposisikan dirinya sebagai ibu bagi seluruh kadernya, Bu Mega sengaja menyampaikan pidato politik layaknya orang curhat. Layaknya seorang ibu yang sedang curhat, maka akan kualat jika sang anak tidak memperhatikan. Itulah dialektika yang tidak dikuasai oleh satu pun ketua partai di republik ini.

Selain itu, kalimat yang dipakai Bu Mega sangat gampang dipahami. Kata-katanya tidak muluk-muluk, tidak sok intelektual, tidak sok politis tapi apa yang disampaikan sangat taktis. Itulah yang membuat seluruh kader merasa menerima instruksi dengan jelas dan tegas. Tidak mbulet. Dalam konteks pidato HUT PDIP tadi, instruksinya juga jelas, “kerja saja, turun ke rakyat, tidur di desa-desa, tanam pohon, jangan perkaya diri. Agar PDIP menang dalam pemilu untuk ketiga kalinya. Hattrick. Untuk persoalan capres itu urusanku, yang jelas saya tidak akan mendorong kalian ke dalam sumur.”

Nah kalau itu direct pesannya sudah jelas. Siapa lagi coba kader PDIP yang layak jadi capres sekaligus mampu membawa efect kemenangan besar bagi PDIP?

Selain itu, banyak sekali simbol yang diungkapkan Bu Mega. Pertama, simbolisasi Jawa. Bagi yang nonton secara utuh, tentu sangat sepakat Bu Mega banyak sekali ngomong menggunakan Bahasa Jawa. Bahkan lebih spesifik lagi beberapa kali Bu Mega menyebut Jawa Tengah. Kedua, soal partai lain yang mencomot kadernya. Ketiga, agar seluruh kader turun ke rakyat, nglengsot bareng rakyat dan lain sebagainya. Belum lagi beliau juga minta kepala daerah berdiri. Nah dari simbol-simbol itu, jika kita rangkum dalam sebuah nama, kira-kira bakal mengarah kepada siapa? Ya Ganjar Pranowo.

“Kamu itu kayak Anies kalau ngomong. Mbulet. Intinya Ganjar Pranowo kan? Ya sudah.” Malah gantian saya yang dia ceramahi.

Bu Mega itu kalau ngomong pakai roso, pakai hati. Maka semua kata-kata Bu Mega itu bisa diterima dengan baik kalau kita juga menggunakan roso, menggunakan hati.

Bu Mega itu tahu kalau wong-wong cilik di negara kita ini gagap untuk menerima kata-kata yang rumit. Makanya beliau memilih peran sebagai ibu ketika ngomong tadi. Nah, saya dan kita semua ini kan juga seorang anak, mestinya langsung nangkap kemana dan apa yang dikehendaki oleh ibu. Jika kita masih butuh penjelasan untuk memahami bahasa seorang ibu, sungguh terlalu.

“Terus kapan dong Bu Mega bakal mendeklarasikan Ganjar?”

“Lho, goblokmu kok kebangeten begitu sih? Kalau ibumu bilang sate itu enak, apa harus nunggu ibumu minta baru kamu mau beli sate?”

Sumber : Sobar Harahap/kompasiana.com

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed