by

Kelompok Teror di Indonesia

Oleh : Alto L

Sebutlah kelompok teror itu sesuai namanyaPemerintah Indonesia lewat Menkopolhukan telah mengklasifikasikan kelompok kriminal bersenjata (KKB) Papua sebagai kelompok teroris berdasarkan UU 5/2018 tentang pemberantasan tindak pidana terorisme. KKB Papua bukan satu-satunya kelompok teror di Indonesia. Ada beberapa kelompok lain yang sudah pernah bahkan sering melakukan aksi terornya di Indonesia. Sebut saja Jamaah Islamiyah, Jamaah Ansharut Daulah (JAD), Mujahidin Indonesia Timur (MIT) dan belasan kelompok teror lainnya.

Nama ini penting karena punya implikasi terhadap aksi kontra terorisme yang dilakukan oleh aparat keamanan, terutama terhadap stigmatisasi, terhadap persepsi publik dan terhadap langkah-langkah kontra-radikalisasi dan deradikalisasi. Selama ini, pemerintah selalu berupaya untuk tidak menghubungkan aksi teror yang dilakukan oleh kelompok teror agamis (religiously motivated terror) dengan agama tertentu. Presiden Jokowi bahkan memakai kata per kata yang sama di tahun 2018 dan 2021 bahwa “terorisme tidak ada hubungannya dengan agama tertentu”. Menyikapi diklasifikasikannya KKB Papua sebagai kelompok teror maka sudah seharusnya pemerintah melakukan hal yang sama dengan pengalaman-pengalamannya memberantas kelompok teror lainnya.

Yang pertama yang harus pemerintah lakukan adalah memisahkan antara kelompok teror di Papua dengan orang Papua. Sama ketika pemerintah tidak pernah menyebut JI, JAD, JAT, MIT dan kelompok teror lainnya sebagai “kelompok teroris Islam atau islamic terroris organizations”, maka seharusnya pemerintah juga tidak memakai istilah KKB Papua pasca penetapan mereka sebagai kelompok teror.

Sebut saja namanya. Misalnya: Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM). Atau jika memang kelompok-kelompok yang melakukan teror di Papua itu sangat terfragmentasi dan selama ini dikenal lewat pimpinannya, maka sebut saja jaringan mereka, misalnya: Jaringan Goliath Tabuni, atau Jaringan Lekagak Telenggen, atau Jaringan Egianus Kogoya dan/atau jaringan-jaringan lain sesuai nama pemimpinnya.

Apakah menyebut jaringan itu bisa? Jawabannya bisa. Contohnya adalah Haqqani Network di Afghanistan. Mereka tidak pernah memakai nama resmi ala Al Qaida atau ISIS, sebaliknya mereka dikenal karena nama pimpinannya yaitu Haqqani.Kenapa penyebutan nama ini penting? Agar tidak terjadi stigmatisasi yang berpotensi kontraproduktif terhadap upaya-upaya pemberantasan terorisme di Papua. Dengan menyebut nama maka potensi stigmatisasi terhadap orang Papua, yang sebagian besar tentunya menolak aksi-aksi terorisme, bisa dihindari. Disamping itu, dengan menyebut nama yang benar maka upaya-upaya membangun kesiapsiagaan nasional dan kontra-radikalisasi, yang menjadi mandat UU 5/2018 itu bisa dilakukan.

Bayangkan jika pemerintah Indonesia melabeli JI, MIT, JAD sebagai kelompok teroris islam maka akan terjadi penolakan yang sangat besar terhadap upaya-upaya pemberantasan terorisme di Indonesia, bahkan bisa dipakai oleh kelompok-kelompok ini untuk melakukan perekrutan dan pencarian dana. Logika yang sama harus dilakukan dengan kelompok-kelompok teroris yang ada di Papua. Sebut saja namanya langsung, baik nama yang sudah pernah mereka publikasikan, atau nama yang diadopsi dari jaringan pemimpinnya. Jika tetap memakai istilah KKB Papua maka pemerintah sedang memilih jalan yang lebih panjang dan berliku dalam menyelesaikan aksi-aksi terorisme dan ideologi radikal terorisme yang ada di Papua.

Sumber : Status Facebook Alto L

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed