Kekerasan Atas Nama Agama

Dalam sejarah Islam darah mengucur atas nama agama dan kepada sesama dan seagama dimulai sejak terbunuhnya ‘Ustman bin ‘Affan pada tahun 656 dan ‘Ali bin Abi Thalib pada tanun 661.

Dalam pergantian khalifah demi khalifah banyak diwarnai dengan pertumpahan darah dan perang. Bahkan ada khalifah yang dibunuh saat sedang shalat Subuh. Dan pembunuhnya hafal Al Quran.

Penganut teologi kebenaran tunggal umumnya adalah motif pembunuhan itu. “Hanya agamaku dan tafsiranku yang benar. Yang lain salah dan harus mati! “

Secara teori ajaran mengajarkan kebaikan. Namun dalam praktiknya ada kekerasan dan tumpahan darah
atas namanya.

Tetap aktual apa yang dikatakan RA Kartini : “Agama memang menghindarkan kita dari dosa. Tapi berapa dosa yang kita lakukan atas nama agama?

DALAM menyoroti fenemena teranyar kebencian sektarian, sering menjadi penyebab intoleransi agama secara kronis. Penyerangan karena beda aliran meski satu agama.

Perbedaan pemahaman dan praktek yang sebenarnya muncul secara alamiah dalam agama mana pun, sepanjang sejarah sering sangat pahit, keras dan kejam.

Apalagi pertikaian dan kekerasan sektarian – di masa kini – hampir selalu bermuatan politis, baik dari segi kelompok agama pelaku kekerasan maupun dari segi negara.

Guru Bangsa kita, Buya Syafi’i Ma’arif menyatakan, agama semestinya mendorong terciptanya peradaban kemanusiaan dengan wajah asri keadilan, keramahan, dan toleransi.

Namun agama tidak jarang ditampilkan dengan wajah kebiadaban, kezaliman, kebengisan, kekerasan, dan minus toleransi.

Karen Armstrong, penulis buku “Sejarah Tuhan”, menyatakan, kehidupan masa kini yang penuh kekerasan atas nama agama, bisa membuat orang frustrasi dan stress, dan bahkan kehilangan bagian terbaik dari kemanusiaannya.

Dunia diselamatkan oleh John lock, filsuf Eropa yang menggagas pemisahan gereja dan kerajaaan melahirkan sekularisme. Memisahkan agama dan negara.

Dan beruntung Bapak Pendiri (Founding fathers) bangsa kita tidak menetapkan Indonesia sebagai negara agama. Melainkan negara Panca Sila yang menghormati agama dan memberikan hak yang sama kepada semua agama. Bukan hanya satu agama semata . Meski toleransi antar umat beragama sedang terus diupayakan.

Dan itu adalah tanggung-jawab kita sebagai generasi pewarisnya **

Sumber : Status Facebook Supriyanto Martosuwito

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *