by

Kejebak Kata “Ibadah”

Oleh : Agus Waluyo Jati

Umumnya di agama saya. Kalau sholat, puasa, zakat dan naik haji itu disebutnya ibadah. Bahkan sampai ada gelar khusus bagi orang yang rajin Sholat disebutnya orang yang rajin ibadah, gelarnya ahli ibadah. Tetapi kalau menahan amarah, tidak iri, tidak membenci, tidak sombong, tidak curang, tidak menipu, tidak menggunjing tetangga, tidak membuat onar, tidak menjerumuskan orang, tidak balas dendam, tidak membuat kerusakan dll.

Itu tidak dilihat dan tidak disebut sebagai ibadah. Tidak digelari sebagai ahli ibadah.Kenapa bisa seperti itu…?Padahal di kamus besar bahasa indonesia, bahasa kita. Ibadah itu maknanya adalah perbuatan untuk menyatakan bakti kepada Allah, yang didasari ketaatan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Contoh ;Sholat adalah perintah-Nya. Sedangkan iri, membenci,sombong dll adalah larangan-Nya. Berarti kalau kita sudah sholat lalu setelah sholat kita masih doyan membenci, iri, sombong dll. Artinya, setelah menjalankan perintah-Nya kita juga menjalankan larangan-Nya. Tidak menjauhi larangan-Nya.”Angel wis..Angel iki nyatetku” Jarene malaikat Kenapa bisa seperti itu…?

Rupanya selama ini kita telah lama terjebak dengan kata ibadah. Pandangan & pemahaman kita mengenai ibadah, kurang meluas dan kurang mendalam. Memaknai ibadah hanya sebatas yang urusannya dengan Allah saja. Mengesampingkan yang urusannya dengan manusia dan makhluk lainnya. Mungkin juga karena pengaruh dari hadirnya penceramah dadakan. Hangat-hangat limaratusan, kayak tahu bulat . Para penceramah dadakan ini hanya menyampaikan apa yang dilihat dan dibacanya saja dari kitab. Tidak menyampaikan juga dari apa yang dikerjakan, dialami dan dirasakannya.

Tidak memberi contoh dengan kelakuan baiknya (Akhlak dan adab). Sederhananya, ilmu yang sudah didapat belum disampaikan kepada dirinya sendiri tetapi sudah berani disampaikan kepada umat. Jarene Enjum.. Ustadz Jarkoni (iso ngajar ora iso nglakoni). Asal sudah bisa ceramah, tampil di tv, dan media-media lainnya, banyak pengikutnya. Langsung digelari Ustadz bahkan Ulama. Padahal, terkadang apa yang diceramahkan itu rasanya hambar, tidak enak didengar.

Isinya hanya mengumbar kebencian & permusuhan. Apesnya, Masih banyak umat yang menelan mentah-mentah dari apa yang sudah di sampaikan oleh para penceramah yang seperti itu. Masih banyak umat yang memilih ustadz karena ketenarannya. Bukan memilih karena kedalaman ilmu dan budi pekertinya. Akhirnya apa yang disampaikan kepada umat hanya sekedar menjadi wawasan, menjadi perpustakaan ilmu. Bahkan ada yang hanya menjadi perdebatan saja.Yang disampaikan ke umat tidak sampai kepada perbuatan dan rasa. Jauh dari kata akhlak yang mulia.

Sumber : Status Facebook Agus Waluyo Jati

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed