Kehidupan Harus Dibayar Dengan Keyakinan?

Persoalan itu alot, sampai akhirnya dengan proses yang kompleks yang dilakukan oleh entah siapa, munculnya isu rebutan jamaah dan posisi ketokohan dan mencutlah persoalan Sunni-Syiah. Persoalan membesar, lalu berbuntut panjang yang berakhir pada pengusiran dan pengungsian Tajul Muluk dan ratusan warga lain itu.. dengan tema besar konflik Sunni vs Syiah.

Saya tidak tahu apakah dengan berbaiatnya warga Syiah itu menjadi Sunni, penambangan di Sampang tidak akan ada lagi yang melakukan penolakan? Entahlah. Saya tidak ingin masuk ke dalam detail persoalannya, karena bukan bidang saya.. dan tidak mendalami kasus ini dengan tuntas. Monggo teman-teman cari sendiri, saya sekedar berbagi sedikit info yang menunjukkan bahwa kasus Sampang ini bukan sekadar soal beda keyakinan.

Bagi saya, sekarang yang paling jelas adalah, dengan kasus ini, terbukti bahwa negara ini tidak menjalankan konstitusinya yang paling dasar UUD 1945 Pasal 28E ayat (1), “Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali.”
Juga lenyapnya jaminan negara yang dijanjikan oleh
pasal 29 ayat (2), yaitu yakni “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduknya untuk memeluk agama dan kepercayaannya.”

Pasal-pasal ini diberlakukan sebagai sampah yang dibuang begitu saja dan membuat kita yakin bahwa untuk hidup tenang di negara ini seseorang harus berkeyakinan tertentu. Tenang dari apa? Ya tenang dari gangguang orang-orang yang berkeyakinan berbeda, juga tenang dari pihak-pihak yang lebih mementingkan bisnis daripada kemanusiaan dan kesejahteraan warga negara.
Akibatnya, hak kehidupan warga negara harus dibeli dengan keyakinan.

Mpun Gusti.. monggo badhe pripun.

Sumber : Status Facebook Alim

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *