by

Kebencian Bukan Hakekat Agama

Oleh : Karto Bugel

Terserah anda memaknai sebuah tongkat yang anda pegang. Pada terjal dan licin sebuah jalan, dia sangat membantu. Tapi, bagi sebagian orang, tongkat yang sama bisa saja dipakai untuk menyakiti. Dia bisa menjadi senjata.

Pun agama, seperti sebuah tongkat yang berfungsi untuk membantu keseimbangan tubuh misalnya, agama adalah pegangan hidup dan pada dirinya melekat makna kasih, bukan kebencian. Bukan menjadi seperti senjata yang bermakna untuk dan akan menyakiti.

Kebencian pasti bukanlah hakikat sebuah agama. Kebencian itu memiskinkan. Dia menguras semua hal baik milik kita.

“Adakah pesan yang berasal dari masa lalu itu masih up to date pada hari ini?”

Agama kembali akan digunakan untuk politik identitas misalnya, itu masih sangat mungkin terjadi pada pemilu 2024 yang akan datang. Bukan hanya pada skala Provinsi seperti 2017 di DKI misalnya, ada indikasi bahwa trend itu akan dijadikan senjata pada skala nasional.

Artinya, indikasi bahwa agama akan dijadikan sebagai kendaraan politik oleh beberapa pihak jelas adalah tentang agama yang ingin digunakan untuk saling menyakiti. Dia seperti tongkat yang justru akan digunakan sebagai senjata.

Bila ya, kisah tiga Majus dari timur dapat menjadi rujukan. Paling tidak bagi umat Kristen yang saat ini sedang merayakan Natal. Kisah itu dapat menjadi pesan yang tetap up to date pada Natal kali ini.

Peristiwa kelahiran bayi Yesus dan namun kemudian justru memantik peristiwa politik di tempat itu adalah kisah tentang agama yang juga dijadikan sebagai alat politik oleh penguasa saat saat itu.

Tiga Majus dari timur adalah tentang tiga orang bijak yang diperkirakan berasal dari Iran. Kisah itu bercerita tentang tiga orang imam atau bahkan justru raja dari pemeluk agama Zoroastrianisme.

Sekedar informasi, Zoroastrianisme adalah merupakan salah satu agama terorganisir tertua yang masih terus dianut hingga sekarang.

Agama ini memiliki kosmologi dualistik yang memisahkan antara kebaikan dan kejahatan serta konsep eskatologi yang meramalkan akan terjadinya penaklukan kejahatan oleh kebaikan.

Konon Zoroastrianisme menganggap Ahura Mazda atau Tuhan yang Bijaksana adalah sebagai Tuhan yang tidak berawal lagi maha bijaksana.

Secara historis, fitur-fitur unik agama itu adalah monoteisme, penilaian oleh Tuhan setelah kematian, konsep surga – neraka, malaikat, dan setan. Bisa jadi agama itu justru telah mempengaruhi sistem dari agama-agama serta filosofis-filosofis lain, termasuk Agama-Agama Samawi.

Konon, atas petunjuk ilahi dalam rupa bintang, tiga orang majus dari timur itu datang untuk memberi penghormatan atas kelahiran seorang bayi di Betlehem.

Panggilan iman berupa penampakan benderang cahaya bintang tentu adalah momen yang tak boleh kita abaikan sebagai petunjuk ilahi atas iman dan kepercayaan mereka. Bertiga, mereka bicara tentang raja yang baru lahir.

Menjadi masalah, penguasa setempat yakni Herodes merasa bahwa makna raja yang dilekatkan pada diri bayi itu oleh tiga majus, diterjemahkan sebagai calon pesaing.

Tak ada kamus dalam hidupnya manakala pesaing hadir. Rencana untuk membunuh sang bayi pun dia susun.

Untuk memuluskan niatnya, serta merta Herodes pun merasa perlu untuk menjadi bagian dari iman kepercayaan tiga majus yang sama sekali tak pernah dia kenal sebelumnya.

Dalam rasa gundah atas hadirnya pesaing dalam diri sang bayi, dia pun menyusun siasat.

Agar ketiga majus itu tak menaruh rasa curiga, dia kemudian menyampaikan bahwa dia pun ingin memberi penghormatan sama seperti cara dan kepercayaan tiga majus itu.

Dalam rasa khawatir atas kekuasaannya, dia berusaha menarik simpati agar ketiga majus itu memberi tahu dimana bayi itu berada agar kelak dia pun akan dapat melakukan hal yang sama, hal yang seharusnya dilakukan olehnya sesuai dengan cara dan kepercayaan tiga orang tersebut.

Herodes mencoba untuk bersembunyi di balik iman dan kepercayaan tiga orang itu demi alasan politik serta kekuasaan. Dia berkamuflase menjadi.

Adakah sekilas rasa mirip kisah yang terjadi pada 2.000 tahun yang lalu itu dengan kita hari ini, bila itu tentang bagaimana para aktor politik kita hari ini dalam turut saling menunggangi agama dan kepercayaan, sepertinya hal itu memang ada.

Khawatir kita bersama bahwa pada 2024 nanti politik agama akan dimanfaatkan segelintir pihak demi mencari kekuasaan, pantas untuk menjadi fokus kita. Kita perlu kembali memantapkan diri bahwa agama bukanlah tempat untuk kita saling mencari manfaat.

Bila pertanyaan nya apakah pesan agama masih up to date untuk hari ini, sepertinya kisah tiga Majus dari timur itu memang masih relevan dengan cara kita hidup hari ini. Kita perlu kembali pada nalar kita bahwa agama tak mungkin hadir untuk kebencian.

SELAMAT HARI NATAL BAGI ANDA YANG MERAYAKAN…🙏🙏

RAHAYU

Karto Bugel

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed