Kasta Guru Madrasah

Sebenarnya di tataran teknis; guru SMA dan guru MA memakai silabus yang sama, beban Kompetensi dasar yang sama, materi yang sama, jam ajar yang sama bahkan buku paket yang sama! Kenapa saya sebut buku paket? Karena saya pernah tanyakan itu pada pembuat buku paket pelajaran sejarah. Menanyakan apakah materi Mata Pelajaran sejarah yang diajarkan di SMA berbeda dengan MA berbeda?

Jawabnya: tidak!

Lantas mengapa mereka tidak bisa satu forum musyawarah? Saya kira ini problem besar lintas Kementrian dalam menata komunikasi guru-guru kita. Saya jadi ingat dalam suatu ceramah, Buya Said Aqil Siroj pernah mempertanyakan: mengapa pendidikan harus di urus dalam dua kementrian?

Ini pertanyaan yang akan mengarahkan kita pada pertanyaan yang lebih besar. Landasan utamanya, memang pengalaman pribadi saya yang dikeluarkan dari grup musyawarah guru hanya karena soal ‘saya guru madrasah’ (sedih juga ya dengernya!). Namun jawaban atas fenomena itu mengantarkan saya pada pertanyaan lebih luas. Apakah segregasi semacam ini akan membantu kemajuan pendidikan Indonesia?

Kalau ia, mari kita Dukung! Tapi, apa iya?

Kini, orang-orang mulai mempertanyakan; mengapa siswa kurang empatik? Mengapa anak saya tidak disiplin? Mengapa anak saya tidak bisa berlaku adil? Dan semua pertanyaan itu, sedikitnya bisa dijawab melalui persoalan di atas; karena para guru, melakukan segregasi dan diskriminasi, bukan hanya sejak dalam pikiran, namun dalam praktek yang vulgar dan terbuka diantara sesama mereka sendiri.

Kalau memang sebagai guru Madrasah, saya tidak layak bermusyawarah dengan guru SMA, Its fine. Saya kira, kita hanya perlu membuktikan. Bahwa guru madrasah bisa berada forum-forum yang lebih baik dan lebih tinggi, dari sekedar musyawarah yang dibangun untuk berbagi keistimewaan dengan mereka yang itu – itu saja.

Sumber : Status Facebook Iman Zanatul Haeri

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *