by

Kapitalis Suka dengan Para Pemburu Sunnah

Oleh : Budi Santosa Purwokartiko

Dengan anak2 TK SD SMP pakai seragam celana dan rok panjang, industri tekstil senang. Pabrik sabun tersenyum. Tukang jahit bahagia. PDAM hrs menyediakan air lebih banyak. Suplier tawas atau kaporit tepuk tangan. Tukang laundry hepi.

Agama yg mengajarkan hidup sederhana. Agama pula yg bikin boros memakai sumber daya. Termasuk sumber alam.

Tapi kaum agamawan memang sdh lama jadi partner kaum kapitalis.

Jaman revolusi industri, jika buruh nuntut upah naik, para pendeta dikerahkan. “Rejeki di tangan Tuhan, kamu hrs nrimo dgn upahmu, kerja dgn ikhlas, sabar”. Lebih baik pemilik modal mbayari pendeta drpd naikkan upah buruh.

Kini para pengusaha agen umroh haji juga pakai jasa ustadz. “Hidup di dunia tdk penting, akherat kekal. Datangi rumah Allah”. Termasuk pengusaha airline ikut tersenyum. Nggak peduli utk itu banyak orang jual pekarangan atau sewakan sawah dan pulang jadi miskin.

Kalau nggak ada jamaah umroh maskapai kehilangan pelanggan. Agen perjalanan jadi berkurang keuntungan. Masih banyak ikutannya, termasuk kurma,air zam zam dan habatussaudah.

Sekolah tanfiz atau hafidz Quran juga polanya mirip. Bisnis ternyata dekat dengan keyakinan. Ada yg yakin masuk surga, ada yg yakin dapat uang.

Di universitàs juga banyak yg memakai agama utk dapat posisi dan uang. Mainnya halus.

Penjual air kemasan juga mirip. Pasang peringatan warna urine di toilet bandara. Penjual obat kolesterol juga mirip lho. “Kolesterol itu penyebab serangan jantung, minum obat ini.”Penjual obat kuat juga nggak beda. Cuma mereka nggak lewat agama. Selama bisa menghidupkan ekonomi ya nggak masalah. Iya kan?

Sumber : Status Facebook Budi Santosa Purwokartiko

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed