by

Kang Pisang Jadi Ketua Umum

Oleh : B Uster Kadrisson

saya ingin kita anak muda mulai menyalakan lilin dan berhenti mengutuk kegelapan. Karena politik adalah jalan ninja kita..
(kaesang pangarep, Jakarta 2023)

Tergelak saya membaca berita kalau putra bungsu ayahanda Jokowi, Kaesang Pangarep tiba-tiba diangkat menjadi ketua umum PSI. Padahal baru kemarin sore ada ramai berita yang menggoyang jagad raya kalau dia baru saja menjadi anggota resmi. Siapa yang tahu kalau mungkin juga baru hari lusa yang lalu dia mengisi formulir untuk mendaftarkan diri. Ini adalah penanjakan posisi yang secara harfiah benar-benar melejit seperti meteor dan barangkali bisa masuk ke dalam Guinness Book Record atau dicatat di MURI.

PSI yang selama ini mengukuhkan diri sebagai partainya anak-anak muda, memang telah mendobrak semua tradisi. Tidak ada yang tidak mungkin, generasi instant masa kini tidak suka berlama-lama menanti, segala sesuatu ingin segera berubah, kalau bisa besok pagi. Bosan sudah mendengar berita tentang politisi tua jompo yang sudah bau tanah yang masih juga sibuk bersitengkar memperebutkan kursi. Dan orangnya yang itu-itu juga terpilih, padahal selama ini tidak ada kegunaannya bagi bangsa dan negara serta nir-prestasi.

Terang saja saya mendukung seratus persen tingkah nyeleneh partai yang masih bau kencur ini, apalagi di seluruh dunia partai-partai milik anak muda sedang naik daun. Seperti Macron yang menjadi presiden Prancis dengan menggalang partai yang kini bernama Renaissance, yang hanya berusia sekitar 7 tahun. Atau Move Forward Party di Thailand yang tidak lebih berusia 9 tahun dan bisa menguasai sepertiga kursi parlemen yang selama ini dikuasai oleh junta militer yang lanun. Serta ada puluhan juta anak muda di Indonesia yang kalau dikoordinasikan dengan baik, akan tidak mungkin kalau bakal ada perwakilan PSI nanti di DPR yang akan membuat politisi tua pada manyun.

Memang si tukang pisang masih sangat awam dari dunia politik tetapi dia mempunyai panutan dan seorang guru yang mumpuni. Yang hanya sejarak jangkauan tangan, yang bisa dirangkul dan dihubungi kapan saja, tidak perduli sudah lewat tengah malam atau dini hari. Yang ada di dalam daftar speed-dial, dan pasti akan langsung diangkat tanpa harus melalui tangan sekretaris pribadi. Sosok yang bisa dimintai langsung pendapat berharganya saat sarapan dan untuk bertemu tidak perlu terlebih dahulu bikin janji.

Pidato pengukuhannya saja nyaris sama seperti bapaknya yang menggunakan nada bercanda dengan bahasa dan idiom-idiom anak muda. Herannya jika ayahanda Jokowi yang menggunakan akan terasa lucu dan akan mengundang ketawa sinis yang aneh jika dipakai oleh para politisi tua. Seperti ajakan untuk berpolitik dengan riang gembira yang santuy dan santun tanpa saling hujat dan mencela, karena politik adalah jalan ninja kita. Jika nanti perilaku mereka dalam menangkis issue murahan seperti yang selama ini sudah dipraktekkan, pasti sosial media di Indonesia akan dipenuhi oleh emoticon gelak tawa.

Dia beruntung mempunyai privilege yang keren dengan mendompleng nama bapaknya dan itu memang dia akui sendiri tanpa perlu basa-basi dan banyak sanggah. Jika nanti gebrakan-gebrakannya akan mirip, ya nga usah heran, karena buah baik akan jatuh nga jauh dari pohonnya kecuali kalau pohonnya berada di pinggir kali yang penuh dengan sampah. Dengan membawa nama bapaknya diharapkan semua pintu dunia internasional akan bisa terbuka, tetapi jangan disangka kalau anak-anak pejabat bisa mendapatkan semuanya dengan mudah. Ada rezeki dan jalannya masing-masing, seperti seseorang yang sedang menangis di pojokan karena sampai sekarang dia masih juga tidak berarti apa-apa dan hanya menjadi meme di sosial media.

Tabik.

Sumber : Status Facebook B. Uster Kadrisson

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed