Kalau Mama Tua, Nanti Aku Kasih Baby Sitter

“Oh, jadi gimana strateginya ibu?” aku mulai menggalinya.

“Gini, anakku ada empat semuanya lakik. Aku bilang ke mereka ‘Ndak ada itu bagi warisan kalau aku dan papimu belum sama-sama mati. Kalau papimu mati duluan, semua warisan jatuh ke aku dulu. Aku pakai buat hidup dan biaya kesehatanku. Nanti kalau aku mati, baru sisanya buat kalian.’ Gitu ngomongku. Karena suamiku sukanya diurusin orang, ya kalau aku mati duluan, biar aja duitnya dia bagiin ke anak-anak. Dia tinggal nunggu dikasih makan aja sama anak-anak, dianterin ke dokter, dimandiin, kayak koceng… ha-ha-ha..”

Aku ikutan ketawa. Aku membayangkan dia di masa mudanya pasti cantik sekali, gesit dan cerdas.

“Oh iya, aku masih aktif kerja.” Sahutnya seperti mengerti jalannya pikiranku.

“Setiap bulan aku masih bolak-balik ke kota X buat nengok pabrikku, ngecek ini-itu. Setahun sekali aku jalan-jalan… ke Eropa, ziarah, atau ke China, ke Australia. Nengokin cucu yang kuliahnya nyebar. Enak ogh, hidup begini : tua, sehat, hati senang, dan pegang duit.”

“Pegang duit..! Hahaha aku suka bagian itu”, jawabku sambil ngakak.

“Eh anakmu berapa?” dia tanya.

“Satu, perempuan, masih SMA.”

“Suamimu misih idup?”

“Mantan suami masih hidup.. tapi sudah jadi milik orang hahaha.. Kenapa bu?”

“He..? Anakmu dulu kamu serahin ke baby sitter?”

“Aku punya ART buat bantu-bantu siapkan makan, beresin baju kotor dan piring kotor aja. Tapi anakku selalu sama aku. Kuurus dengan tanganku sendiri… Kadang malah kuajak kerja kalau aku pas ada acara ngajar ke luar kota.”

“Oh bagus itu…! Nanti anakmu yo akan ngurus kamu. Karena dia tahunya, manusia itu ya perlu diurus dan disayang. Tapi kamu kayaknya orangnya bebas merdeka ngono. Anakku yo podo pengen ngurus aku, mereka anak-anak yang tahu diri. Tapi akunya sendiri yang mau bebas begini. Enak begini, tenan to… kamu ambil kendali nasibmu sendiri.”

“Jangan ngarep diurus anak, kayak si itu” dia menunjuk pasangan suami istri yang terlihat duduk berdua dan diam-diaman melihat ke arah halaman.

“Mereka itu merasa dibuang anake. Memang sih, dikasih fasilitas mewah di sini. Tapi kan persis sikap mereka dulu : anake ditinggal-tinggal, dikasih fasilitas mewah, makanan cukup, cuma diserahkan ke tangan profesional. Sekarang nelongso waktu anake memperlakukan sama. Padahal ya anaknya itu sayang sama ortunya. Sering nengok kok. Tapi anaknya kan kadung ngeretinya ngono : sayang itu ya membiayai, tapi diserahkan ke tangan orang lain yang ahli. Mustinya kan opa-oma itu hepi, wong di sini ini enak kok… Tapi deloken, mukanya ketekuk gitu, dua-duanya…”

Hatiku rontok.
Betul. Seseorang bisa menderita, meski ada di tempat yang indah.
Betul. What goes around, comes around. Apa yang ditabur akan dituai.

Aku ingat seorang teman yang bercerita, bahwa anak balitanya pernah pergi sekolah dengan bahagia, dan wanti-wanti berpesan :

“Mama jangan nakal ya di rumah. Main sama mbakku dulu ya…. Nanti kalau mama sudah tua, aku kasih baby sitter sendiri.”

—— anak adalah cermin ortunya. Mereka mencintai dan memperlakukanmu seturut teladanmu, apapun itu…

Nana Padmosaputro
Jakarta, Sabtu, 31 Agustus 2019, 15:29

* Detail identitas, kuganti. Nama tempat dan orang tidak kusebut, demi menjaga privasi sebisanya. Tapi foto dan video lokasi tetap kuupload, sebagai barbuk, bahwa kami betulan ke sini.

*lagipula foto dan video ini bisa memberikan insight dan memperbaiki image buruk tentang panti jompo.

Sumber : Status Facebook Nana Padmosaputro

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *