Kabiadaban Berpolitik

 

Belum lagi grand hoax ( yg kecil banyak ), oplas RS dan kertas suara 7 jt yg sdh di coblos. Ini semua upaya menimbulkan huru hara, mungkin saja ini bahan bakar strategi ” bakar rumahnya, rampok isinya ” sayang ketauan, Tuhan tidak berpihak kepada ketidakbenaran.

Makin jelas sekarang dan kita tunjuk hidung mereka. AR, PS, FZ, FH, ADR, dan koloni perusak negeri ini membahayakan Indonesia. Usia mereka tidak lagi muda, berpolitiknya makin jauh dari kebaikan. Mereka mempertontonkan prilaku yg ” sangat ” berutal, amit-amit semoga ini tidak menular kepada generasi muda penerus bangsa. Jangankan dosa, bayangannya saja mereka sudah lupa. Ini sangat berbahaya pangkat 5.

Kalah debat karena ngawurnya, kemudian meneruskan ngelindurnya. Menteri keuangan di pelesetkan menteri pencetak utang. Selain mencederai lembaga negara, komennya seperti orang gila yg akalnya tinggal sejengkal. Bagaimana seorang capres, ngomongnya seperti orang stroke mikir, asal bunyi tak berisi. Mau jadi presiden kelakuannya nomaden. Tidak punya struktur berpikir positif, yg ada pikiran negatif. Apa Indonesia mau dipimpin manusia primitif. Amit-amit.

Saya kok makin yakin, pendukungnya yg masih waras jadi was-was dgn cara berpolitiknya yg buas. Seperti makan buah simalakama, dipilih buat Indonesia celaka, gak dipilih mati gaya. Sebaiknya pilih yg jelas saja, agar bernegara tak sia-sia.

Manusia tinggi IQ rendah EQ ini memang membuat otak kita kaku karena mereka berprilaku tak seujung kuku para pelaku politik yg seharusnya energik dgn optimisme yg bisa ditularkan kepada kaum milenial. Bukan berprilaku binal, kelihatan sintal tapi tak menjual malah membawa sial. Hasil terbaik yg dapat dicapai seseorang adalah perpaduan antara ide dan antusiasme positif.

Dalam masalah hati nurani, pikiran pertamalah yg terbaik. Dalam masalah kebijaksanaan pemikiran terakhirlah yg paling baik. Artinya hati nurani seseorang dibentuk oleh lingkungan, dan kebijaksanaan yg diterapkan adalah perpaduan antara hati nurani dan pengalaman.

Kita tidak akan mendapat output yg baik dari pemimpin yg hati nuraninya dibentuk oleh kemudahan dan perjalanan hidupnya tidak pernah merasakan kesusahan. Karena mereka tumbuh dalam kerapuhan. Tidak ada serat jati yg indah dari tanah gembur yg memudahkan dia tumbuh. Yang ada, hanya pohon berdaun lebat dgn batang yg getas. Jati dgn serat indah hanya didapat dari pohon yg tumbuh ditanah tandus, selalu kekurangan air, akarnya menghujam kekedalaman tanah, maka, pohonnya akan kuat, liat, tak mudah patah, namun menghasilkan keindahan.

Kita mungkin bukan pelaku politik, tapi kita produk politik, sehingga kita dituntut melek politik, agar kita tau membedakan antara politik yg intelek dgn politik yg hanya telek. Mana politik beradab dan mana yg biadab. Agar kita terhindar dari virus kebiadaban yg merugikan secara keseluruhan.

 

(Sumber: Facebook BIakto)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *