by

Jokpro untuk 2024?

Oleh: Iyyas Subiakto

Teman-teman yang berdedikasi di motori mas Qodari Indo Barometer sedang menggodok bersama tagline dan identitas pengusungan Jokowi – Prabowo 2024.

Ada beberapa masukan seperti JP2024, JOKPRO, WIBOWO2024, JOKOPROBO, DLL.. sebenarnya sebutan apa saja tak masalah karena esensinya adalah bagaimana ruh kekuatan keduanya bisa disatukan utk kepentingan stabilitas Indonesia. Karena pembangunan apapun butuh ke stabilan prima utk menjalankan dan mencapainya.

Kenapa JOKPRO, seperti kita ketahui dlm pilpres 2019, Jokowi meraup suara 86 jt atau 55,6 %, dan PS meraup 68 jt atau 44,4 %. Dan angka itu diraih dgn penuh ketegangan kalau tak mau disebut pertikaian yg nyaris blooding.

Polarisasi dua kutub itu sempat mengancam ke stabilan Indonesia, bahkan diujung perhitungan suara masih terjadi penekanan yg membahayakan ancaman keamanan, untung saja dapat di redakan, dan PS dgn besar hati mau bergabung di kabinet Indonesia Maju. Inilah awal ke stabilan yg sudah bisa sedikit menyamankan, walau letupan kecil masih terjadi disana-sini, namun relatif bs diatasi.

Percobaan goyangan berikutnya adalah kepulangan Rizieq dgn design dari para bohir, mau pakai istilah 3C atau apa saja tapi yg jelas DISANA ada pendana yg punya niat membuat Indonesia terus merana, dan mereka mendapat opportunity, sambil nyelam minum olie.Simak saja siapa yg mengatakan ” kekosongan pemimpin nasional “, Rizieq pemimpin kharismatik. Kita diajak buta, syukurlah masyarakat kita sudah mulai melek bersama, walau tak semua.

Ditangkapnya Rizieq dan di berangusnya FPI, hadirnya PS bersama Jokowi di biduk yg sama, adalah hadiah indah untuk keberlangsungan bangsa dan pembangunan yg adil dan beradab serta melakukan pemerataan yg di cita² kan.

Kemesraan dua tokoh ini jangan disia²kan utk diteruskan, bukan lagi hanya mengisi jabatan kabinet namun harus menyatu dalam visi Indonesia maju serta menyiapkan generasi muda yg siap menggantikan mereka agar masa tuanya dikenang sebagai orang berjasa bukan baperan kurang kerjaan.

Kita buktikan rakyat ikut membentuk visi Indonesia, bukan hanya dijadikan pendengar jargon dengan selogan kosong yg isinya songong. Setiap pemilu kita menghabiskan dana +/- 40 t, terlalu mahal kalau kita hanya mencoba² pemimpin baru yg cuma modal nafsu.

Sementara yg sudah terbukti malah mau di ganti karena alasan UU, seolah² UU begitu sakral tak bisa di rubah. Sederhananya adalah kalau sudah ada yg baik ngapain cari yg belum tentu lebih baik.Jadi mari bersama memikirkan bahwa Jokowi belum tergantikan, dan PS adalah balancing point’ utk terwujudnya ke stabilan yg diperlukan demi kejayaan Indonesia ke depan.

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed