Jokowi Tiga Periode?

Tuntutan reformasi atas jabatan Presiden yang cenderung tak terbatas pada UUD 45 telah memberi makna perubahan.
Setidaknya, ada 4 kali lagi amandemen UUD 45 sejak 1999 dan hingga 2002. Atas hal itulah kegalauan para politisi mewacanakan diadakan amandemen kembali. 

Sebagin ada yang berpikir untuk kembali pada UUD 45 asli, ada juga yang ingin sekedar memperbaiki dan ada pula yang radikal, ingin merubah secara menyeluruh. 

Apa pun idenya, itu adalah wacana. Dan wacana tidak melanggar hukum apalagi mereka yang berbicara dan punya ide adalah mereka yang memiliki wewenang atas hal tersebut.

Bahwa gaung yang kemudian lebih disukai adalah wacana seolah PDIP atau Jokowi punya agenda terselubung, yakni kembali ke UUD 45 dan dengan demikian ingin kembali pada pasal 7,  itu cerita lain lagi. 

Sangat mungkin itu adalah hal yang sengaja mereka lempar sebagai isu. Itu pertunjukan yang dinilai akan menuai banyak penonton terlibat di dalamnya.

Sejak awal Jokowi langsung menolak. Bahkan atas wacana menghidupkan kembali GBHN dimana fungsi MPR kembali seperti sedia kala pernah dia tolak pada 2019 yang lalu. 

PresidenJokowi tak pernah setuju atas gagasan tersebut dan apalagi ingkar pada amanat reformasi.
Kemudian, isu bahwa amandemen seolah akan hanya pada poin jabatan presiden 3 periode pun bergaung. Justru isu itu tiba-tiba menjadi apa tampak ingin bagi para pendukungnya. 

Inilah bola liar. Bola itu sempat ditangkap dan diterima oleh para pendukungnya. Harapan yang sama agar Jokowi tergoda dan turut mengambil bola itu, jelas adalah target utama diinginkan. Dalam sepak bola, inilah bola liar yang akan mengakibatkan gol bunuh diri. 

Tidak dengan Presiden Jokowi. Dia tahu benar bahwa dirinya adalah bagian dari rakyat yang setia pada reformasi. Dia juga tahu dengan sangat jernih bahwa dirinya bisa menjadi Presiden karena sebab reformasi dan maka, tidak pula beliau akan berkhianat pada reformasi. 

Untuk kesekian kalinya Presiden kembali menegaskan bahwa dirinya menolak dan tak ingin jabatan itu diperpanjang.
Isu ini, muncul lagi setelah Amien Rais melemparkan kecurigaan bahwa Jokowi akan meminta MPR menggelar sidang istimewa. 

Salah satu agenda sidang istimewa itu adalah memasukkan pasal masa jabatan presiden hingga tiga periode.
Persis seperti bunyi-bunyian yang dipasang di sawah bersama dengan orang-orangan yang terkait dengan satu tali demi menakuti burung,  Rocky Gerung dan tim sorak PKS bersuara tapi tak terdengar beresensi. Terdengar sebagai bunyi bunyian saja. Penampakannya pun mirip orang-rangan belaka.

Dan suara lantang terdengar, “Saya tegaskan, saya tidak ada niat. Tidak ada juga berminat menjadi presiden tiga periode. Konstitusi mengamanahkan dua periode. Itu yang harus kita jaga bersama-sama,” jawab tegas Jokowi sebagai cara beliau mengolah umpan bola itu dengan cantik.

“Trus siapa yang akan menjaga Indonesia tetap pada koridornya? Siapa yang bisa melanjutkan apa yang sudah dikerjakan pak Jokowi?”

Bila hari ini Indonesia seolah hanya terdiri dari Ganjar, Prabowo, Ridwan Kamil dan Anis sebagai calon Presiden masa depan, sia-sia reformasi lahir. Sia-sia semesta memberi Indonesia sebanyak 260 juta jumlah rakyat.
Tugas kita bersama menjaga api reformasi ini tetap menyala.
“Iya, siapa?”

Galilah, munculkan kandidat hebat sebanyak mungkin. Bukan berarti 4 orang itu kurang atau tak bagus, mereka hanya baru sangat sebagian dari sekian banyak orang pintar dan pantas menjadi pemimpin yang masih kita miliki namun belum disebut.
Jokowi pun dulu tersembunyi dan tak pernah muncul bukan? Bila suatu saat dulu kita pernah berhasil mencari dan menemukan mutiara itu, seharusnya tak ada alasan bagi kita untuk tak mampu mendapatkan mutiara yang sama bukan?
.
RAHAYU
.
Sumber : Status facebook Karto Bugel

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *