Jokowi Street

Jadi begitulah para ‘Ho Peng’, teman, relasi Cina, pada kumpul-kumpul . . .

Dari kasus Ibu Kota Baru saja, ada ras Melayu, kita yang punya gawe. Ada Arab diwakili UEA, ada Mister Son wakil Jepang.

Tentu saja akan ada ras atau bangsa lain, yang ikut kumpul-kumpul. Misal Tony Blair, Perdana Menteri Inggris 1997 – 2007, yang sudah setuju juga jadi Dewan Pengarah.

Kok bisa ya ? Ya bisa lah. Sudah fitrahnya manusia untuk bisa berkumpul. Tinggal cari ‘pemicu’. Di era modern ini, pemicu itu bentuk-nya ‘Kemakmuran’.

Kemakmuran itu bukan sekedar kekayaan. Ada di dalamnya ‘Kebahagiaan’. Jadi ndak salah jika banyak orang yang mengejarnya.

Mengejar, meraih, mencari sesuatu, tentu lebih efektif dan efisien, jika dilakukan bersama-sama.

Untuk itulah kita berkumpul. Tak peduli apa warna kulit, bahasa, negeri, bahkan agama yang dianut.

Tentu ada yang masih ‘ngeyel’. Bukankah lebih baik jika bekerja sama dengan yang se-Agama ?! Sesama muslim ?! Bukankah pula sesama muslim itu bersaudara ?!

Ya boleh-boleh saja. Asal mau dan bisa diajak jalan ‘bareng’, setara, seia-sekata, dan seiring setujuan. Namun ndak perlu juga selalu pakai ‘Kacamata Kuda’. Jalan ndak nengak-nengok.

Mari kita ingat juga pesan Imam Ali, Sayyidina Ali bin Abi Thalib sepupu Nabi yang sering dikenal sebagai Baabul ‘Ilmi, Pintu Gerbang Gudang Ilmu Pengetahuan.

Yang bukan saudara kamu se-Iman, adalah saudara kamu dalam Kemanusiaan . . .

Tabek . . .

Sumber : Status Facebook Harun Iskandar

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *