by

Jilbab Bukan Urusanmu

Oleh : Fritz Haryadi

Atlit tanding tidak pakai jilbab? Bukan urusan saya. Jadi saya tidak tanggapi. Tapi karena kau nanggapi, padahal kau goblok, maka terpaksa saya tanggapi. Tanggapan saya : Bukan urusanmu. Itu pendeknya. Ini panjangnya.

1. Atlitnya masuk neraka? Bukan urusanmu. Kau tidak berhak urus perempuan yang bukan 1) anakmu, 2) saudara kandungmu, 3) istrimu. Bapaknya, kakaknya, suaminya tidak ribut, jadi mereka masuk neraka? Bukan urusanmu. Urusanmu di dunia ini bukan mencegah manusia masuk neraka. Urusanmu adalah mencegah dan/atau menindak perbuatan dosa dari manusia YANG MENZHOLIMI MANUSIA LAIN. Selama kau tidak punya nyali potong tangan koruptor karena pamanmu sendiri juga koruptor, sementara mulutmu juga tidak berani laporkan ke polisi, ke wartawan, ke medsos, maka selama itu juga mulutmu itu tidak berhak komentari orang lain.

2. Atlitnya dizholimi karena dipaksa lepas jilbab? Omong kosong. Tidak ada manusia Indonesia bisa dipaksa dalam urusan berpakaian. Adanya dia sendiri yang mau, atas pertimbangan sendiri. Karena dia lebih butuh tanding daripada jilbabnya. Butuh apa dari tanding itu? Kau tanya sendiri ke orangnya. Yang jelas bukan butuh kau.

3. Kau jadi nafsu lihat aurat si atlit? Itu matamu yang mestinya dibikin picek. Agama mengajarkan prioritas mengubah diri sendiri sebelum mengubah orang lain. Apalagi orangnya di seberang lautan. Yang menghubungkannya dengan kau, televisi. Ya kau ganti saja tonton barang lain. Beres.

4. Orang lain jadi nafsu lihat aurat si atlit? Bukan urusanmu. Itu baru jadi urusanmu kalau nafsunya bermutasi menjadi tindakan. Itupun kalau terjadinya di kelurahanmu. Padahal lurahmu tukang cubit pantat pegawai honorer saja tidak kau keluhkan, saking piceknya matamu.

5. Jilbab tidak berkibar maka Islam tidak tegak? Pertama, bukan urusanmu. Karena Islam bukan bikinanmu. Kau yang butuh Islam, Islam tidak butuh kau. Kedua, itu ngawur akbar. Islam bukan tegak dengan simbol-simbol. Dia tegak dengan bukti. Selama di Sukamiskin masih ada napi berjilbab yang sudah berjilbab sejak belum jadi napi, selama itu juga ia jadi bukti bahwa orang berjilbab tetap bisa maling. Bahkan lebih jauh, justru dengan jilbabnya itu dia bisa maling, sebab dari jilbab itulah dia dapat kepercayaan, dapat amanah, dapat kunci untuk maling.

Kalau kau betul mau Islam tegak, maka tegakkan bukti. Bukan simbol. Karena simbol cuma pencitraan. Penegakan simbol-simbol itu justru yang bikin Islam makin gampang dicemarkan. Misalnya dengan bokep segmen khusus jilbab. Dari rumah produksi profesional di amerika sana, sampai video gratisan Made in Indonesia bikinan santri-santriwati. Santri diwati, alias disenggama. Kau tidak mampu nyetop itu. Boro-boro nyetop, malah kau paling rajin download kan. Matamu.

Sumber : Status Facebook Fritz Haryadi

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed