Jihadis dan Imbalan Kawin 72 Perawan di Pintu Surga

Bagi para jihadis, Rezim yang tidak berhukum pada hukum Allah adalah rezim kafer tidak boleh taat apalagi bersekutu dalam semua hal: 

‘Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir” (Al-Maidah: 44).

Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih daripada (hukum) Allah bagi oang-orang yang yakin?.” (QS. Al Maidah: 50).

Para jihadis juga mengembangkan Perspektif tentang kafer sebagai hujjah dan pembenaran untuk penghalalan darah dan jiwa : 

‘Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang mengatakan bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa.“ (QS. al-Maidah: 73).

Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (QS. Alfurqan: 44).

‘Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman.” (QS. Alanfal: 55).

Tak terbayang jika agama di tangan si rendah budi dan dipahami dengan nalar cekak—sebab itu Muhammadiyah dan NU menawar jalan tengah : moderasi. Meski banyak dilawan karena tidak dipahami. Meniadakan sikap radikal dalam beragama pasti menyesatkan dan tidak menyelesaikan masalah. 

Tiga khalifah : Sayidina Umar, Sayidina Ustman dan Sayidina Ali terbunuh di  tangan para ekstrimis. Abu Lu’luah seorang budak dari Parsi mendendam karena negara yang dicintai luluh lantak, pasukan Umar  Ibnul Khattab merubuhkan Kisra. Abu Lu’Lu’ah Fairuz menyesal ia tak bisa membela Kisra dan tanah airnya. Ia menikam khalifah Umar sesaat pada rakaat pertamanya belum juga selesai. 

Para pemberontak yang dipimpin Muhammad bin Abu Bakar berhasil mengepung  khalifah Ustman yang dituduh lembek dan nepotis— banyak kebijakan khalifah Ustman dilawan karena banyak menguntungkan pihak keluarga, ditambah kesenangan khalifah hidup mewah. Khalifah Ustman pun dibunuh saat menderas Al Quran kemudian tewas di tangan para ekstremis. 

Siapa tak kenal Abdurahman ibn Muljam Al Maqri —- saleh dan hafidz. ‘Alhukmu ilallah’ inilah jargon terkenal dikalangan ekstrimis saat itu. Sayidina Ali ra  dianggap kafer karena berhukum pada selain Allah— lantas dihalalkan darah dan jiwanya. Ibnu Muljam tak hentinya membaca surah al Baqarah 207,  ketika pisau belatinya membenam di tubuh khalifah. Ali pun rubuh dan tewas saat usai memimpin shalat shubuh di pagi buta di bulan ramadhan. 

Tapi bagaimana jika para jihadis salah terjamah —? Ledek orang barat atas tafsir yang dipahami para jihadis. Borris Johnson salah satunja. Perdana menteri Inggris ini pernah menulis novel tantang kawin 72 bidadari surga yang tertulis dalam berbagai kitab suci. 

Novel ini pernah sangat populair : 72 Virgins a Comedy of Error—janji 72 bidadari bagi martir agama, ini kisah tentang surga menjadi lucu-lucuan karena dipahami dengan nalar cekak. Kartun dibuat oleh orbit, bahwa sang teroris sudah sampai di akhirat dan dijemput 72 bidadari buruk rupa, sang teroris lari tunggang langgang ketika dipaksa melayani. 

Ada yang menyebut hadist itu dhaif dan diragukan sahihnya, tapi sebagian sudah kadung percaya dan menjadikan doktrin jalan pendek menuju surga— salah tafsir memang bisa sangat menjerumuskan. Tapi ini soal harapan dan mimpi hidup enak ditengah sulit— Wallahu alam 

Sumber : Status Facebool @nurbaniyusuf
Komunitas Padhang Makhsyar

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *