by

Jelang Lebaran, Taubat Naik Lion Air

Setelah lama ngantri, saya bertemu dengan petugas customer service bernama Riska Devianty. Saya tahu nama dia setelah saya berhasil memintanya menunjukkan name tag. Name tag itu saya lihat sedikit disembunyikan. Saya paham betapa beratnya petugas seperti dia, harus menghadapi bertubi pelanggan-pelanggan Lion Air yang komplain. Saya berjanji, sekesal apapun hati saya pada manajemen Lion Air, saya tidak akan memarahi dia. Saya janji!
 
Begitu dia mempersilahkan membuka pembicaraan, saya langsung mengawali laporan dengan kata pendahuluan sebagai berikut:
 
“Begini Mbak, saya tahu terhadap permasalahan saya ini Mbak pasti akan bilang jika saya sudah terlambat boarding sehingga tidak bisa dibantu. Saya tahu, Mbak bukan pengambil kebijakan dan saya tahu sekarang pesawat sudah boarding sehingga mbak tidak akan bisa membantu saya.”
 
“Tapi baiklah, saya akan tetap ceritakan permasalahan saya”. Lalu saya ceritakan permasalahan di counter 26 tadi secara runtut, sebagaimana di atas
 
Dan…. benar. Mbak-nya menjawab persis dengan yang saya duga: tidak bisa membantu, tiket saya hangus, tidak ada alternatif pengganti penerbangan, dengan alasan saya terlambat boarding. 
 
Desssss,….. jadi benar dugaanku. Di counter 26 ditolak dengan alasan tidak melalui web check-in, di customer service ditolak dengan alasan (baca: tuduhan) terlambat check-in.
 
Btw, ada statemen yang tidak  konsisten dipakai oleh satu counter dengan counter lainnya: di counter 26 ditolak dengan alasan kursinya sudah penuh diisi orang lain, sementra di counter customer service dikatakan kursinya masih kosong (tetapi karena terlambat check-in jadi tidak bisa masuk). Duh….!
 
Saya konfrontir ketidakkonsistenan jawaban ini kepadanya. Dia tidak bisa menjawab lagi. Terpojok. Akhirnya saya diarahkan untuk ke counter 15. Saya tanya, “siapa di sana?” Jawabanny, itu adalah supervisornya. “Oke saya ke sana, tetapi minta diantar, saya tidak mau dipingpong lagi”. Dia antar saya. Di counter 15 ketemu dengan petugas bernama Aji Seti Wibowo. Jawabannya sama: tidak bisa dibantu, tiket hangus dengan alasan (baca: tuduhan) Bapak terlambat. Asssss***…!!!!!
 
Meski di dada ini sebenarnya bergemuruh dentuman-dentuman magma kekesalan yang sudah sampai pada level puncak, tetapi saya tidak tumpahkan itu. Terhadap kedua petugas saya sayang, saya  tidak marah-marahi. Karena saya tahu kemarahanku takkan mengubah apa-apa. Saya hanya minta statemen terakhir dari mereka jika mereka sudah mentok dan tak bisa berbuat apa-apa lagi. 
 
Lalu kemarahan ini untuk siapa? Layaknya adalah untuk menajemen Lion Air yang ‘tega’ menjual kursi saya (jika asumsi pada pernyataan petugas di counter 26 itu benar) atau menghanguskan tiket yang telah saya beli (dengan harga lebaran loh) dengan alasan yang tidak bisa saya terima. 
 
Saya sudah tidak berharap tiket saya diganti atau uang saya kembali. bahwa soal keburukan manajemen Lion Air, saya sudah dengan sejak lama. Kejadian hari ini hanya mengkonfirmasi persepsi publik itu, bahwa ternyata saya juga mengalaminya. Mungkin ada puluhan, ratusan atau ribuan pelanggan lain mengalami hal serupa (semoga tidak) tetapi tidak pernah bercerita. Semoga tidak. 
 
Anyway busway, saya menuliskan ini sebagai katarsis saja, supaya meredakan dentuman emosi jiwa yang membuncah di dalam dada. Jikapun tulisan ini tak didengar gaungnya, saya masih percaya pada karma: bahwa apa yang diperbuat pasti ada balasannya di masa yang lain atau pada masa kehidupan berikutnya. 
 
Lion Air salah? Yang kuasa tak pernah salah bukan? Yang salah saya, kenapa masih mau terbang dengan Lion Air. Semoga saya bisa segera bertaubat, dan menempuh jalan penerbangan yang diridhoi Tuhan. Selesai.
 
Sumber : Status Facebook M Chozin Amirullah

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed