by

Jejak Gus Dur Melawan Politik Sektarian

Oleh: R Widi Nugroho

Tahun 1990-an. Gus Dur bereaksi keras terhadap politik sektarian yang mulai menggejala. Lahirnya ICMI disikapi dengan membentuk Fordem sebagai tandingan.

Pak Harto nampak sedang mengubah arah politik dengan menoleh ke Islam kanan. Tetapi mungkin Pak Harto tidak sedalam Gus Dur dalam memahami hal ini.

Gus Dur kemudian berkeinginan menampilkan secara demonstratif Islam moderat dan dukungan terhadap Pancasila dengan mengundang 1 juta orang dalam Rapat Akbar 1 Maret 1992 yang bertepatan dengan harlah NU ke-66 di Jakarta. Meskipun setuju dengan acara tersebut, tetapi mobilisasi 1 juta orang membuat Pak Harto khawatir akan timbul efek yang tidak bisa dikendalikan.

Maka dengan mengerahkan aparat, acara tersebut dibonsai sehingga jumlah yang hadir tidak sesuai dengan rencana awal. Gus Dur kemudian menyurati Pak Harto untuk lebih berhati-hati dalam mengorientasikan Islam di Indonesia sambil mengingatkan kejadian di Aljazair.

Kekhawatirannya yang dalam menyebabkan Gus Dur menyebut Pak Harto bodoh dalam wawancara dengan Adam Schwarz di bukunya A Nation in Waiting. Pak Harto marah besar. Hampir tidak ada orang yang seberani itu sampai menyebut Pak Harto bodoh.

Pak Harto kemudian membalas Gus Dur dengan berusaha menyingkirkan Gus Dur di Muktamar NU 1994 di Cipasung meskipun pada akhirnya menemui kegagalan. Tahun 1990-an waktu itu saya masih kuliah, dan terheran-heran dengan sikap Gus Dur yang terkesan “melawan” perkembangan Islam.

Nasi sudah menjadi bubur. Islam sekarang telah menjadi entitas politik . Entah bagaimana caranya mengembalikan Islam ke dalam jalurnya sebagai agama pembawa rahmat bagi semuanya.

(Sumber: Facebook Diskusi dengan Babo)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed