Jangan Ceramah Sambil Teriak

Apabila dicermati bersama, dalil khotbah Nabi tersebut tidak ada kaitannya sedikit pun dengan amar makruf nahi munkar. Konteks dari hadis di atas adalah ketika Nabi saw. menjelaskan tentang hari kiamat. Sehingga tensi suara khotbah beliau sebagai bentuk isyarat atas gentingnya keadaan hari kiamat. Hal ini juga dibuktikan dengan hadis senada dengan riwayat lain yang berbunyi:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِذَا ذَكَرَ السَّاعَةَ احْمَرَّتْ وًَجْنَتَاهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ وَعَلَا صَوْتُهُ حَتَّى كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ

“Saat Rasulullah saw. Menjelaskan hari kiamat, wajah beliau memerah, amarah beliau meluap, suara beliau meninggi, seolah-olah beliau adalah komandan angkatan perang.” (HR. Ibnu Hibban)[3]

Dengan demikian, penggunaan dalil khotbah Nabi sebagai pembenaran untuk ceramah yang berteriak-teriak dalam rangka amar makruf nahi munkar terkesan kurang ilmiah dan salah paham.

Adapun perkataan mereka bahwa dakwah dan amar makruf nahi munkar tidak memiliki kaitan adalah klaim sepihak tanpa dasar. Sebab apabila dipahami secara menyeluruh, dakwah dan amar makruf nahi munkar memiliki relasi yang sangat kuat. Sebagaimana penjelasan Imam Ibnu Taimiyah:

وَقَدْ تَبَيَّنَ بِذَلِكَ اَنَّ الدَّعْوَةَ نَفْسَهَا أَمْرٌ بِالْمَعْرُوْفِ وَنَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ فَإِنَّ الدَّاعِيَ طَالِبٌ مُسْتَدْعٍ مُقْتَضٍ لِمَا دُعِيَ اِلَيْهِ وَذَلِكَ هُوَ الْأَمْرُ بِهِ

“Maka sudah jelas bahwa esensi dakwah adalah memerintah kebaikan (amar makruf) dan mencegah kemungkaran (nahi munkar). Karena orang yang berdakwah pasti meminta, menyeru, dan menuntut pada apa yang ia ajak. Dan hal tersebut dinamakan perintah (amar).”[4]

Dalam keterangan lain, pakar tafsir kenamaan, Imam Fakhruddin Ar-Razi, mengatakan dalam penafsirannya mengenai surat Ali Imran ayat 104:

اَلدَّعْوَةُ اِلَى الْخَيْرِ جِنْسٌ تَحْتَهُ نَوْعَانِ اَحَدُهُمَا التَّرْغِيْبُ فِيْ فِعْلِ مَا يَنْبَغِيْ وَهُوَ الْاَمْرُ بِالْمَعْرُوْفِ وَالثَّانِي التَّرْغِيْبُ فِي تَرْكِ مَا لَا يَنْبَغِيْ وَهُوَ النَّهْيُ عَنِ الْمُنْكَرِ

“Dakwah pada kebaikan merupakan pembagian yang di dalamnya mencakup dua hal. Pertama, seruan untuk melakukan kebaikan, ini dinamakan amar makruf. Kedua, seruan untuk meninggalkan keburukan, ini dinamakan nahi munkar.”[5]

[]waAllahu a’lam

[1] Shahih Muslim, vol. II hal. 592

[2] Ibid

[3] Shahih Ibn Hibban, vol. VII hal. 332

[4] Majmu’ Al-Fatawa, vol. XV hal. 166

[5] Tafsir Al-Kabir, vol. VIII hal. 146

Sumber : Status Fanspage Lirboyo

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *