by

Jalan Politik Ganjar, Mendengar dan Merasakan Persoalan Rakyat

Oleh : Oktaviani Ciptaning

Barangkali kemewahan tertinggi seorang pemimpin adalah bisa dekat dan dipercaya penuh masyarakatnya. Pun sebaliknya bagi kita, memiliki pemimpin yang benar-benar mau mendengar dan membantu menyelesaikan setiap permasalahan warga, tentu jadi kebahagiaan tersendiri.

Dalam kontestasi Pilpres kali ini, harapan itu rasanya semakin terang. Dari sekian kandidat yang ada, aku melihat Ganjar Pranowo adalah salah satu sosok yang berada dalam kriteria yang kita harapkan itu.

Sudah tentu sebagai calon presiden, Ganjar dekat dengan tokoh-tokoh politik maupun ulama besar. Namun yang membuat dia berbeda adalah kepekaannya dalam memandang permasalahan masyarakat bawah. Itu adalah karakter kepemimpinan yang aku harapkan akan selalu ada dalam diri Ganjar.

Ganjar sering sekali menghabiskan waktunya untuk menemui masyarakat secara langsung. Bahkan bukan hanya menapakkan kakinya di lantai rumah milik warga biasa, namun juga menginap, tidur di kasur rumah penduduk. Desa-desa di pelosok negeri yang sebelumnya tidak pernah disambangi para tokoh, dan nyaris terpinggirkan karena akses yang sulit pun disambanginya.

Ganjar hadir di sana untuk mendengar langsung aspirasi maupun keluhan-keluhan yang dialami masyarakat setempat. Dari mulai jaringan internet yang susah, belum meratanya pemberian bantuan, hingga permasalahan-permasalahan lain terkait biaya pendidikan.

Apakah Ganjar terpaksa melakukan semua itu? Kalau baru sekali sih mungkin iya dan kita pun patut curiga. Namun ternyata kebiasaan semacam itu sudah lama sekali dijalani Ganjar. Bahkan sejak menjabat DPR Ganjar sudah tidur di rumah warga di dapilnya. Rutinitas itu pun berlanjut saat Ganjar menjabat gubernur Jateng dua periode lewat program Rembuk Desa.

Melalui program itu Ganjar menginap di rumah-rumah warga di desa-desa di Jawa Tengah untuk menyelesaikan berbagai persoalan. Dengan menginap di rumah warga, Ganjar bukan hanya melihat masalah yang dialami warganya, namun turut merasakan langsung apa yang dialami warganya.

Mungkin karena kepekaan Ganjar inilah yang membuat aku diam-diam mengaguminya. Ia hadir dalam memoriku sebagai pemimpin yang bersahaja, apa adanya. Bahkan senang ceplas ceplos dengan warganya. Bisa kubayangkan apa yang dilakukan Ganjar sungguh tidak mudah. Aku yang hanya warga biasa saja tidak betah kalau harus menginap di tempat orang lain, susah sekali memejamkan mata. Apalagi bagi pejabat publik, yang terbiasa hidup nyaman, dengan banyak fasilitas mengelilinginya.

Prof Iswandi, Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta menyebut, kebiasaan itu lahir karena sosok Ganjar yang memang tidak asing dengan kehidupan masyarakat kecil. Bahkan dia menduga, Ganjar sudah masuk level menikmati ketika bertemu dengan masyarakat.

“Tidur di rumah penduduk itu bukan saja membutuhkan kesiapan fisik, tapi kenyamanan psikologis, ketenangan emosional, hingga kesiapan mental. Jadi nggak bisa dibuat-buat. Hanya orang-orang yang terbiasa berbaur dengan masyarakat bawah yang bisa melakukan itu,” katanya.

Jika mau menengok ke belakang, kebijakan-kebijakan Ganjar selama masih menjabat gubernur, memang banyak yang bermuara untuk masyarakat bawah, untuk meningkatkan derajat dan harkat hidup mereka.

Dari mulai merenovasi rumah tak layak huni hingga mencapai lebih dari satu juta unit, menggratiskan biaya SPP, menciptakan sekolah asrama gratis untuk warga kurang mampu, memberikan jaminan sosial untuk masyataat rentan tidak produktif, dan lain-lain. Barangkali itulah jalan politik Ganjar, ia mau mendengar, merasakan, dan lalu menyelesaikan satu persatu masalah yang dialami warganya melalui kebijakan-kebijakan terukur.

Sumber : Status Facebook Oktaviani Ciptaning

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed