Isra’ Mi’raj : Islam dan Yahudi

Sebagian mufassir dalam salah satu versi penafsiran menjelaskan bahwa perintah puasa dalam Al-Baqarah 183 itu justru perintah untuk berpuasa seperti umat sebelum kamu, yaitu puasa 10 Muharram khas orang Yahudi. Kemudian nantinya disempurnakan  menjadi puasa Ramadhan di ayat 185-nya.

Ketiga, Meski pada periode berikutnya puasa 10 Muharram ditiadakan kewajibannya, namun kita tetap disunnahkan untuk melakukannya, bahkan sampai kiamat tetap dipertahankan. Kita masih tetap disunnahkan puasa 10 Muharram (Asyuro).

Artinya bahwa ibadah yang aslinya bawaan Yahudi itu sampai sekarang masih kita jalankan, meski statusnya jadi ibadah Sunnah. 

Jangan lupa kita juga disunnahkan berpuasa dengan puasa Nabi Daud alaihissalam, yang sehari puasa dan sehari tidak. Padahal Nabi Daud itu bukan nabi buat kita, Beliau itu orang  Yahudi. 

Masih ingat kan bintang segi enam itu? Itu kan bintang Daud yang kemudian menjadi lambang agama Yahudi. Entah resmi atau tidak, pokoknya segi enam itu lambang yahudi dan itu bintang Daud. Tapi kita disuruh puasa ala Nabi Daud meski bukan puasa wajib.

Keempat, Bukan hanya dalam puasa saja kita disuruh ‘ikut’ Yahudi, tapi dalam beberapa syariah termasuk shalat.
Janga lupa bahwa Nabi SAW awalnya diperintahkan shalat ke kiblatnya orang Yahudi yaitu Baitul Maqdis, sebelum akhirnya dipindahkan arahnya ke Ka’bah.

Sebelum Isra’ Mi’raj ataupun setelah Isra’ Mi’rah, kiblatnya Nabi SAW waktu itu bukan Ka’bah tapi malah Baitul Maqdis. Jadi cerita isra’ mi’raj itu kira-kira Beliau diajak menuju ke kiblat shalatnya selama ini. Mirip kita sekarang ibadah haji umrah, kita ziarahi kiblat kita.

Satu catatan yang menarik, ternyata kalau dibandingkan secara durasi waktu, ujung-ujungnya lebih lama menghadap Baitul Maqdis ketimbang langsung ke Ka’bah. 

Hitung-hitungannya begini : Selama 13 tahun periode Mekkah, Nabi sepenuhnya diperintahkan shalat menghadap Baitul Maqdis. Bahkan meski sudah hijrah pun masih diperintahkan kesana, setidaknya sampai dua tahun kemudian. 

Jadi totalnya 13 tahun plus 2 tahun yaitu 15 tahun menghadap Baitul Maqdis. Baru sisanya yaitu 8 tahun (23 tahun dikurangi 15 tahun) yang menghadap Ka’bah langsung. 

Bayangkan, 15 berbanding 8 tahun. Lebih lama shalat ke kiblatnya Yahudi ketimbang Ka’bah sendiri. Silahkan cek ke kitab tafsir kapan turunnya ayat berikut ini.
قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ
Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. (QS. Al-Baqarah : 144)

Kelima, Nabi SAW meski diangkat menjadi hakim di Madinah, namun kalau menghadapi Yahudi, Beliau SAW tidak pakai Al-Quran. Tapi pakai Taurat sebagai hukum dan syariah yang Allah turunkan kepada mereka.
Namun berhubung Nabi SAW itu ummi atas Taurat (maksudnya Beliau tidak mengerti bahasa Ibrani baik lisan atau pun tulisan), maka Beliau meminta para ulama (pendeta) Bani Israil untuk membantu. 

Misalnya ketika ada Yahudi berzina, dalam sidang Nabi SAW minta ulama (pendeta) Yahudi membacakan ayat-ayat zina dalam Taurat, khusus terkait hukuman apa yang Allah SWT tetapkan. Bukan sesuai Qur’an tapi sesuai Taurat. 
Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *