by

Islamisme dan Jatuh-Bangun Ideologi Politik

Itu normal, wajar dan biasa saja. Semua ide dan konsep hasil ciptaan manusia akan mengalami proses jatuh-bangun, bukan hanya ideologi politik, sistem pemerintahan, ideologi ekonomi dlsb saja tetapi juga konsep tentang Tuhan juga mengalami jatuh-bangun. Ada yang percaya, mengimani dan mempraktikan sepenuh hati dan segenap pikiran. Ada yang tidak percaya sama sekali. Ada lagi yang pura-pura percaya biar dikira relijiyes padahal “dalemannya” semprul-prutul amburadul.
Ada banyak faktor yang menyebabkan ambrolnya sebuah ideologi politik. Ada yang karena fondasi idenya lemah, matinya pentolan pengusung ideologi, modalnya cekak, tidak laku dijual di masyarakat, diserbu oleh kompetitor ideologi besar, ditinggalkan pemandu soraknya, digilas oleh perubahan zaman, dlsb. Seperti “barang dagangan” pada umumnya, ideologi politik juga begitu: adakalnya jaya, ada kalanya bangkrut, ada kalanya tidak laku.
Sejak rontoknya rezim Turki Usmani di awal 1920an, aneka ragam bentuk ideologi Islamisme terus berusaha eksis dan merebut kekuasaan di berbagai belahan kawasan Muslim dari Afrika dan Timur Tengah hingga Asia Selatan dan Asia Tenggara tetapi nasib sial selalu membuntutinya.
Ideologi Islamisme belum pernah sukses dan gemilang merebut, memimpin, dan menguasai kekuasaan. Para aktivis pengusung ideologi Islamisme hampir nyaris selalu “gatot” alias gagal total dalam upaya mewujudkan impian mendirikan sebuah negara atau kekuasaan berbasis Islamisme.
Dalam sejarah Timur Tengah serta Afrika Utara/Barat, ideologi ini dikeroyok oleh berbagai ideologi transnasional: komunisme, nasionalisme, Arabisme, kapitalisme, demokrasi, republikanisme, monarkisme, liberalisme, sekularisme, dlsb. Pernah mendapat suporter di Mesir dan Suriah dulu tapi kemudian tumbang oleh rezim sekuler.
Di Yaman, ideologi ini keok dimamah oleh republikanisme dan bahkan sempat dipecundangi oleh komunisme. Di negara-negara Arab Teluk, mereka “mendelep” dikempit oleh ideologi dan rezim monarkisme sehingga nyaris tak bisa bergerak. Di Levant (Yordania, Palestina, Libanon), ideologi Islamisme megap-megap diserbu oleh berbagai faksi Islam lain.
Di Pakistan, ideolog ini sempat menyusup di saat Jenderal Ziaul Haq berkuasa (1977-1988) tapi kemudian pelan-pelan mrotoli. Di Afganistan, rezim Islamis Taliban sempat menguasai 2/3 wilayah negara itu hingga lima tahun tetapi kemudian negaranya kemudian porak-poranda hancur-lebur karena rezimnya goblok-njeblok nggak paham ilmu perekonomian & politik-pemerintahan. Taunya cuma nyabetin perempuan di jalan dan tempat umum yang gak pakai abaya dan burqa/niqab sambil jualan ganja / mariyuana untuk membiayai para pemandu sorak Mollah Omar, pemimpin Taliban. Itu doang.
Bagaimana dengan Indonesia? Di Indonesia, sejak awal kemerdekaan, para pengusung ideologi Islamisme sempat berusaha “unjuk gigi” tetapi nasibnya kurang lebih sama: berantakan karena dikeroyok dan dikepung oleh sejumlah ideologi lain.
Kini, pasca tumbangnya Mbah Harto, beragam / varian pengusung ideologi Islamisme – dari yang keras & ekstrim bak tugu monas sampai yang lunak menul-menul laksana klepon – terus berusaha menguasai Indonesia dengan berbagai cara, strategi, taktik, dan modus kampanye dan propaganda. Tetapi hingga tulisan ini dibuat, mereka selalu gagal maning gagal maning. Semoga fenomena ini bukan “kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda”.
Bagiku, Islamisme – dan ideologi politik berbasis agama apapun – tidak sesuai dengan watak kemajemukan masyarakat dan bangsa, selain berpotensi membahayakan dan menghancurkan tatanan sosial dan bangunan kemanusiaan universal. Islam yes, Islamisme No.
Jabal Dhahran, Jazirah Arabia
 
(Sumber: Facebook Sumanto Al Qurtuby)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed