by

Islam Yes Partai Kampret No

Oleh : Jody Ananda

Cak Nur (Nurcholish Madjid – Alm), pernah mengeluarkan jargon “#Islam Yes, Partai Islam No”, di tahun 1970-an. Apa yang menyebabkan keluarnya jargon tersebut?Saat itu, kelas menengah muslim yang baru terbentuk memiliki kemasygulan politik. Di satu sisi mereka ingin melaksanakan ajaran Islam sebaik-baiknya, namun tak ada saluran politik dalam bentuk partai Islam yang memadai. PPP, sebagai hasil fusi partai-partai Islam, dianggap tidak cukup “layak” dan lebih sering melakukan politisasi agama, ketimbang mengedepankan substansi islam.

Cak Nur memberikan sebuah “exit door” teologis saat itu. Dengan kata lain, kesalehan individual dan bersifat privat, tidak lantas berbenturan dengan aspirasi politik, yang bisa disalurkan ke partai mana saja. Dalam tafsir politik Cak Nur, nilai nilai keislaman yang berporos pada keadilan, pluralisme dan kesetaraan hukum, adalah nilai-nilai yang bisa diperjuangkan partai politik apapun, tanpa perlu memandang bungkusnya. Yang menarik, Cak Nur sendiri justru berkampanye untuk PPP saat itu, dengan alasan “memompa ban kempis.

“Hasil Pemilu 1971 membuktikan premis Cak Nur, dengan kekalahan telak Partai Islam yang diwakili PPP. Tentu saja, kita tidak bisa menafikan unsur represif dan kooptasi politik Orde Baru saat itu dibawah Soeharto 45 tahun sesudah itu, tahun 2016 ini, kita seolah-olah mengalami de ja vu sejarah. Jika dulu yang dianggap musuh adalah rezim Soeharto (yang telah tumbang), musuh kekinian adalah #korupsi.

Musuh lain, yang bergerak secara “halus” seperti api dalam sekam, adalah gerakan-gerakan anti-toleransi dan anti-keberagaman, sebagai efek dari gerakan transnasional yang berasal dari Timur Tengah. Dengan bungkus agama, dan kelincahan teknologi propaganda/sosial media yang mereka kuasai dengan baik, mudah sekali bagi kita untuk menemukan citra Islam yang terdegradasi menjadi kaum yang jumud (kaku dan mandek nalar), intoleran, dan menggeser peradaban kembali ke jaman batu. Alih-alih menyiapkan kader dengan kualitas unggulan untuk membawa amanah nilai-nilai Islam, Parpol Islam justru sibuk dengan isu-isu lokal yang tidak penting.

Pemimpin daerah yang mengemuka juga bukan dari parpol Islam, atau bahkan kader asli parpol semacam Ridwan Kamil (Bandung), Tri Rismaharini (Surabaya), Joko Widodo (Solo), Ganjar Pranowo (Jateng), atau Basuki Purnama (Babel).Inilah saatnya kelas menengah Islam bicara, bahwa tataran Islam yang substantif, dapat diperjuangkan dengan mengawal seorang calon pemimpin daerah yang jujur, adil dan egaliter.Jadi, Islam Yes, Parpol Kampret No!Islam Yes, Ahok Why Not?

Sumber : Status Facebook Jody Ananda

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed