Islam Unthuk

Kisah lain dari kejatuhan kesultanan Ottoman, juga ndak lepas dari perkara bahasa dan ilmu pengetahuan. Karena diketemukan, salah satunya, karena mereka buta huruf !

Bukan buta huruf dalam arti yang sebenarnya. Mereka terlena, merasa mereka pinter dan kuat perkasa. Sedang di luaran jaman sudah jauh berubah. Negeri yang dulu dipandang mereka dengan sebelah mata, telah merambat kembali jadi bangsa raksasa lagi. Ilmu pengetahuan dan teknologi mereka telah maju pesat, segala yang Ottoman punya seakan cuma jadi barang kuno dan rongsokan dipendam dalam gudang.

Tak hirau lagi untuk mau paham dan mengerti bahasa dan huruf asing, jadi ‘buta huruf’ asing, alih-alih terjemahkan kitab2 ilmu dan teknologi, seperti jaman kakek-moyangnya dulu.

Kun faya kun ! Ottoman pun jadi kerajaan bego dan bento. Tergusur dari percaturan bangsa raksasa dunia. Karena ndak pernah belajar dan baca buku lagi . . .

Sebegitu pula anehnya kita, jika tak mau terjemahkan kitab suci agama lain. Sebegitu takut dan bodohnya, seakan umat Muslim yang baca serta merta bisa beralih agama. Atau memang kita sudah sebegitu bodoh dan bebalnya ?

Kenapa bukan berpikir ‘lurus’. Dengan bisa dan bebas baca kitab agama lain, dalam ‘bahasa’ kita, justru membuat kita makin cerdas dan alim, karena mampu membanding-masuk akal-kan. Justru akan pertebal iman . . .

Mengapa pula kita takut jika para penyembah Tuhan Kita, dengan ‘cara’ kita, berkurang yang peduli atau bahkan tak ada lagi yang ikuti ?

Kita sorak gembira saat ada berita pesohor atau selebriti jadi muallaf. Menghujat ganas di saat berita sebaliknya tersiar. Sungguh dungu dan tidak percaya diri.

Sedang ‘Yang Punya’ sendiri, Tuhan Alllah, jika mau, ya jika mau, bikin Islam merambah seantero-pelosok bumi, bisa dengan mudah di sabdakan-Nya . . .

Kelak umat Muslim akan ternista oleh musuh dan oleh dirinya sendiri, ujar Nabi. ‘Apakah kita saat itu ada cuma sedikit jumlahnya ?’ Tanya seorang sahabat.

‘Tidak,’ jawab Nabi Mulia. ‘Kita justru sangat banyak. Tapi tak bernilai. Bak buih di lautan. Bergerak kesana kemari tanpa arah. Selalu terombang-ambing . . .’

Di lain waktu Nabi bersabda, ‘Yahudi akan jadi 71, Nasrani jadi 72, dan kita, Muslim akan terbagi menjadi 73 . . .’

Di waktu yang lain, di masa kini, ada kumpulan orang yang selalu teriakkan, Islam cuma ‘Satu’. Dengan suara ganas, raut berang dan sangar.

Celakanya ‘yang satu’ itu, yang di’percayai’nya. Yang lain salah. Kafir, meniru kafir, antek kafir, zalim, bid’ah, penista agama, segala dan semua kosa kata hujatan ‘sarngi’ diarahkan kepada yang tak sama . . .

Apakah kita telah sampai pada suatu saat, dimana umat Islam yang sudah seperti buih ? Saking goblog dan dungunya ? Kena penyakit ‘wahn’, seperti kata Nabi.

Apakah islam nan ‘membuih’ itu adalah orang2 yang selalu teriakkan ‘Islam cuma ada satu’ dan ‘yang satu itu punya kami saja, punya kalian mesti salah . . . ?’ Belum jelas juga.

Yang jelas, sekarang di negeri ini telah ada umat Islam, sedikit atau banyak, sesuai sabda Nabi. Yang seperti buih. Banyak, tapi cuma terombang-ambing. Ya Islam Buih !

Islam ‘Unthuk’ ! Kata arek Suroboyo.

Jaman kecil dan remaja dulu, ada ‘phrase’ kalimat sebutan khusus, bagi seseorang yang menafkahi dirinya sebagai PSK atau ‘Germo’-nya. ‘Bondho unthuk !’

Satu jenis pekerjaan yang ndak pakai modal sama sekali, cuma modal buih. Jualan buih. ‘Dodolan unthuk’. Hubungan kata ‘modal buih’ atau ‘busa’, dengan pekerjaan PSK dan germo-nya, silakan cari dan terjemahkan sendiri . . .

Nah, yang sekarang ada, sudah ganti modal-nya. Ayat dan mayat. Jualan ayat dan mayat. Apakah jualan ‘unthuk’, ayat, atau mayat, profesi yang hina dan nista ?

Mereka mesti njawab, dengan yakin dan tanpa merasa bersalah, ‘Ya ndak lah. Namanya orang usaha . . .’

Terombang-ambing tapi ndak merasa. Rakus. Dungu. Bebal. Sukanya bengak-bengok. Suara keras tanpa arti dan makna. Selalu merasa benar dan punya kunci sorga . . .

Islam ‘unthuk’, itu sebutannya . . .

Sumber : Status Facebook Harun Iskandar

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *