by

Islam Harus Relevan Di Segala Zaman

Oleh : Fahd Pahdefie

Di era disrupsi ini apakah ada perubahan dalam kehidupan beragama? Disrupsi tentu memberi konsekuensi perubahan yang cepat dan radikal. Perkembangan teknologi yang bergerak cepat, terutama dengan hadirnya internet of things, machine learning, artificial intelligence, big data, cryptocurrency dan lainnya membuat kita semakin tak bisa dipisahkan dari teknologi dan perubahan zaman. Di satu sisi memberi kita banyak kemudahan, efisiensi dan efektivitas. Tetapi di sini lain juga memberikan tantangan yang berbeda, yang harus kita sikapi sesuai dengan spirit zaman ini.

Bagaimana pula dengan berislam? Islam adalah agama yang berorientasi peradaban. Manusia menjadi khalifah atau wakil Tuhan di muha bumi untuk menciptakan kehidupan yang baik, menebar rahmat dan kasih sayang Allah, menjaga perdamaian, menjaga alam, dan seturusya. Spirit dan corak Islam adalah pembaharuan dan selalu menjadi nilai yang relevan di segala zaman. Islam tidak boleh kaku atau bahkan menolak perubahan zaman, karena itu sifatnya niscaya.

Maka berislam harus juga mengantisipasi semua gerak perubahan zaan ini, muslim harus senantiasa relevan dengan segala tantangan zaman, nilai-nilai Islam harus membumi di semua bentuk berubahan zaman. Itu esensinya. Maka fiqh harus terus bergerak dengan perkembangan zaman, tasawuf harus memandu spirit zaman, muamalah dan siyasah harus terus bergerak dengan dinamika perubahan yang ada, dan seterusnya. Pengaruh apa hal ini terjadi?

Tradisi fiqh dalam Islam menggambarkan secara terus-menerus dan konsisten bagaimana Islam selalu berjalan beriringan dengan perubahan zaman. Selama ini terbukti al-Quran dan Hadits merupakan pedoman yang selalu cocok dengan segala perubahan dan dinamika zaman, tinggal kita terus menemukan interpretasi yang bergerak dengan spirit zaman. Islam itu tidak kaku, mudah, tidak mempersulit. Para faqih penting untuk terus mengupdate referensi baru sesuai dinamika zaman. Saat ini kita butuh fiqh Internet, fiqh fintech, fiqh cryptocurrency, fiqh teknologi antariksa, dan seterusnya yang mingkin seabad lalu sama sekali belum terpikirkan.

Wawasan Islam juga harus terbuka pada perubahan dan paradigma masa depan. Apa yang harus dilakukan umat Islam dalam hal ini? Umat Islam harus menjadi pembelajar, sesuai dengan pesan al-Quran (iqra) dan wasiat nabi dalam berbagai hadits. Muslim yang baik adalah muslim yang berilmu dan mampu membaca alam, membaca kehidupan sosial, lebih jauh membaca zaman dengan segala perubahannya.

Di era disrupsi ini, tantangan dan kebutuhan itu semakin besar. Muslim bukan hanya dituntut beribadah saja, tetapi bagaimana nilai-nilai keislaman dan keimanan yang dimilikinya bisa menginspirasi zaman bahkan memberi kontribusi pada kemajuan-kemajuan. Bagaimana Muhammadiyah menghadapi cara berislam yang berubah ini? Muhammadiyah lahir dari spirit pembaharuan dan perubahan. Muhammadiyah ingin menghilangkan corak beragama yang jumud, taqlid buta dan berorientasi pada romantisme masa lalu.

Tahun 1912, KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah dengan spirit perubahan dan kemajuan zaman, pada zamannya. Tapi itu satu abad yang lalu, saat ini spiritnya perlu terus diupdate dan diperbaharui. Saatnya Muhammadiyah bukan lagi semata bicara hal-hal yang seabad ini sudah didiskusikan dan diperjuangkan, Muhammadiyah juga perlu bergerak ke isu-isu baru dan mengantisipasi berbagai perubahan zaman.

Sumber : Status Facebook Fahd Pahdepie

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed