by

Integritas Para Menteri

Oleh : Ary Sudiargo

Tadi pagi bu menteri keuangan, bu sri mulyani diagendakan memgunjungi pasar oro-oro dowo sekitar jam 8 – 10 pagi. Aku tahu beliau akan datang setelah aku diberitahu oleh pak kurir sayuran yang selalu pakai jaket kulit di seberang warung bu siti pracangan. Saat itu bapak penjual buah (aku tidak tahu namanya karena aku tidak pernah beli buahnya) ikut nimbrung.

Saat istriku beli bawang bombay, telur dll di bu siti, pak kurir dan pak tukang buah sambil merokok bilang bahwa mereka tidak begitu senang ada pejabat datang ke pasar itu karena pembeli biasanya terhalang belanjanya karena pejabat yang selalu berjalan pelan biasanya bawa rombongan banyak sekali, ada wartawan, pengawal, staf dll. Mereka berdua berharap bu sri datang agak siang sekitar jam 10 setelah kerjaan mereka sudah beres.

Skip skip … aku dan istriku pindah ke ibu gendut pedagang ayam potong dan ibu penjual daging yang didampingi anaknya yang (sepertinya) sedang belajar jualan daging. Mereka tidak ngomong apa-apa karena sibuk sekali. Setelah beli ayam dan daging thethelan, kami pindah ke ibu penjual kue pukis dan lumpia. Si ibu penjual pukis agak kesel nampaknya karena pasar yang sangat ramai, tambah hiruk pikuk dengan adanya pasuka satpol pp , polisi, tentara (babinsa), wartawan berkamera camggih, youtuber berhape mahal dan staf yang aromanya wangi dan mahal entah dari departemen apa yang sibuk mondar mandir tapi nggak beli jajanan apapun.

Yang aku amati sendiri sejak datang ke pasar jam 7 pagi, pasar oro oro dowo yang biasanya memang sudah bersih dan rapi, dibersihkan lebih intensif. Aku agak heran kemana perginya kucing kucing liar yang biasanya kluthusan dan diberi makan ikan pindang. Trus tiba-tiba ada belasan petugas keamanan pasar berseragam serba hitam yang dulu waktu era ppkm pernah bertugas (2 orang). Trus tiba-tiba dua ibu pengemis, yang satu berkacamata-berbaju rapi-bertas hitam dan satunya cacat dipunggungnya, menghilang dari pasar. Trus tiba-tiba pasangan pengamen tuna netra yang biasanya berkaraoke lagu dangdut di pintu masuk juga menghilang. Trus tiba-tiba wanita gendut yang aku duga menderita gangguan jiwa dan biasanya duduk di kursi kayu di pintu masuk juga menghilang. Kage Bunshin No Jutsu!

Sebagai orang yang sangat mengagumi kehebatan dan integritas bu sri mulyani, aku sebenarnya sangat ingin bu sri mulyani (sebagai menteri keuangan) batal datang ke pasar oro-oro dowo karena pasar oro-oro dowo bukanlah representasi dari pasar tradisional di kota malang. Pasar oro-ori dowo sudah bersih, nggak ada copet – preman – pengemis yang (maaf) menjijikkan, pembayarannya sudah bisa pakai qris, kualitas dagangannya nomor satu di kota malang dan pedagangnya orang-orang yang berdedikasi. Jadi ketika bu sri atau pejabat siapapun yang datang ke malang, imaji yang tertanam adalah “pasar tradisional di malang itu keren, bersih, modern ….

hebat ….” trus walikotanya dengan senyum lebar dan penuh rasa bangga mengantar si pejabat pergi dengan lega. Tapi palsu.

Pasar yang menjadi representasi sebenarnya dari kota malang adalah pasar blimbing yang bertahun tahun statusnya “akan dibangun” tapi tidak kunjung dikerjakan, pasar besar yang kumuh, gelap dan berantakan di tengah kota malang, pasar kebalen yang pedagangnya membludak sampai memenuhi jalan mulai klenteng sampai cukam dan pasar gadang yang kumuh yang justru terletak di tengah kota tapi tidak pernah menjadi tujuan utama para pejabat. Aku curiga para pejabat selalu “dialihkan” secara sengaja dan terencana oleh walikota malang dan para bawahannya dari empat pasar kota malang yang kumuh, gelap, berantakan, sempit, dihiasi pengemis yang (maaf) menjajakan cacat tubuh dan luka, becek dan baunya lumayan membuat mual. Aku yakin bahwa kunjungan bu sri mulyani tadi pagi sudah diorkestrasi dengan baik karena birokrasi kota malamg adalah event organizer yang profesional: dibukakan jalan pakai voorijder polisi, lokasinya sudah dipilih dan dibersihkan, pemandangan yang berpotensi nyepet-nyepeti mripat sudah disingkirkan, ada belasan pejabat datang menyambut cuma buat salaman sama pejabat, ada polisi dan tentara yang mengamankan lokasi (entah dari ancaman apa), ada wartawan yang sibuk motret dan tanya di doorstop, tanya pedagang…. trus pulang. Persis seperti era jaman raja-raja jaman dulu yang keliling pasar diiringi hulu balang dan wadyabala.

Seandainya saja bu sri atau pejabat lain datang sebagai pejabat tanpa berkabar dan tanpa persiapan sebelumnya maka mereka akan melihat kota malang yang sebenarnya, yang berpuluh-puluh tahun ada tanpa perubahan yang berarti walaupun pemimpinnya terus berganti-ganti, walaupun 80% anggarannya terus digunakan untuk membayar aparatur negara yang hanya menjalankan ritual birokrasi yang sama tanpa usaha dan inovasi. Cukup datang ke pasar besar kota malang jam 6 pagi, menutup hidung rapat-rapat sambil melewati deretan pedagang ayam potong atau gunungan sampah di bak truk sampah pojok belakang pasar, jongkok di depan pengemis yang kulitnya hitam dan banyak boroknya yang leyehan di depan toko emas di deretan toko seragam ‘papinya”, atau melewati toko alat rumah tangga santoso yang gangnya sempit dan berdesakan …. kemudian kita akan melihat bagaimana walikota dan birokrasi dibawahnya merespon kunjungan itu. Apakah mereka akan berubah memperbaiki keadaan atau tetap cuek rai gedhek? Ya kita lihat saja.

Jika bu sri mulyani atau pejabat lain datang sebagai pribadi maka silahkan saja memilih pasar yang mereka suka. Ada batas yang jelas antara kunjungan pribadi dan sebagai pejabat. Sebagai pejabat, kunjungan ke daerah haruslah memberi dampak perubahan yang efektif dan nyata bagi tempat yang ia kunjungi. Eman-eman jika orang sehebat bu sri hanya ikut di acara yang diorkestrasi oleh pemkot sebagai event organizernya.

Sumber : Status Facebook Ary Sudiargo

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed